Results for Keluarga

8 Rahasia yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis

September 20, 2018

Mengajari anak berperilaku


8 Rahasia yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis - Pendidikan anak adalah tahapan yang penting dalam mengajarkan anak-anak sejak dini. Pendidikan ini dilakukan sejak anak dari usia 0-10 tahun. Tahapan ini disebut dalam usia balita dimana pada usia ini orang menyebutnya masa emas yang artinya masa-masa ini adalah masa krusial dimana peran orang tua sebagai guru yang baik bagi anak sangat dibutuhkan. 


Di usia inilah perjalanan anak dimulai dan otaknya yang belum terisi apa-apa seharusnya mulai dimasukkan berbagai input bernilai positif. Anak belum tahu apa-apa, oleh karena itu anak diusia ini banyak menanyakan banyak hal yang kadang membuat sebagian orang tua jengkel dengan pertanyaan yang dilontarkan anak sebagai balasan keingin-tahuannnya kepada sesuatu. Sayanagn, tak jarang orang tua yang membentak anak sebagai balasan dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan dalam waktu yang bersamaan.


Memang mereka tidak tahu apa-apa. Dan dalam ketidaktahuan itu anak berusaha ingin tahu, itu sebabnya harusnya orang tua memasukkan pengajaran yang baik seperti kata-kata yang baik, norma-norma yang baik disamping anak diajarkan huruf-huruf dan menulis, karena inilah tahapan emas bagi anak. Anak-anak sangat mudah menangkap sesuatu dari apa yang mereka lihat atau dengar, sayangnya belum bisa mencerna setiap input yang masuk kedalam otaknya. Semua ditelan tanpa mengunyah layaknya suapan bubur dari seorang ibu. Berbeda dengan anak yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA, sedikit banyak sudah mulai bisa mencerna atau menyaring input dalam pikirannya.


Dibawah ini, 8 rahasia  yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis. Mungkin bagi sebagian orang pengajaran ini sangat sederhana, namun sangat besar pengaruhnya setelah ia menjadi remaja bahkan dewasa. Oleh karena itu para orang tua jangan sampai melewatkan waktu berharga ini untuk mengajarkannya kepada anak:


1. Ajarkan anak sejak dini untuk selalu berterimakasih untuk hal apapun.

anak yang Berterimaksih


Anak-anak tidak tahu apa yang akan diucapkan saat menerima sesuatu dari orang lain. Anak akan hanya menerima saja apa yang diberikan orang lain kepadanya, tanpa bicara apa-apa, karena kelasnya memang masih dilevel itu. Orang tua sebagai pendamping anak, akan mewakili anak mengucapkan terimakasih  ketika anak bahkan belum bisa berbicara. Kebiasaan ini akan ditiru anak ketika suatu waktu ia sudah bisa mengucapkan kata perkata. Orang tua biasa mengucapkan terima kasih saat datang pujian kepada anak atau saat menerima kado atau sesuatu dari orang lain. 

Orang tua harus giat memcontohkan kata-kata terimakasih dalam pemberian apapun, bahkan yang kelihatan terkecil atau bahkan yang tidak kamu inginkan sekalipun. Awali mengucapkan terimakasih. Jangan selalu berpikir untukmu tetapi itu untuk anakmu, bahwa tujuan sebenarnya itu untuk mengajarkan anak kebiasan baik. 

Kalau ucapan terima kasih tidak diajarkan pada anak dari hal yang paling kecil sejak dini, maka nanti setelah besar maka ia akan menjadi anak yang menggerutu dan tidak bisa menghargai pemberian orang lain.


2. Ajarkan anak bicara kejujuran.

Anak yang jujur


(Terkadang) disatu sisi orang tua akan marah pada anak saat anak tidak bicara jujur, tetapi disisi lain orang tua juga sering tidak jujur pada anak. 
Contoh: Suatu waktu ketika anak sedang memainkan barang-barang orang tuanya, dan barang-barang tersebut berpindah tempat, yang entah anak taruh dimana?. Ketika orang tua bertanya siapa yang telah memainkan barang tadi?, Anak yang merasa ketakutan berusaha menghindar lalu berbohong.  Anak Tahu ia salah, tetapi ia berusaha menghindar dari kemarahan ibunya.


Secara tidak langsung ibunya mengajarkan untuk tidak berbohong. Sebenarnya dalam konteks ini anak berusaha jujur, berhubung takut kena marah, anakpun memilih berbohong. Kemudian  disisi lain ada orang tua entah tanpa sadar atau tidak, karena orang tua tidak ingin anaknya main jauh-jauh, lalu berkata: Awas jangan kesitu, disitu banyak hantunya. Memang, saat itu anak tidak tahu apakah orang tua sedang membohongi dia  atau tidak karena masih polos. Ia ikut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah mulai besar baru tahu, bahwa ia sudah dibohongi. 


Dalam hal ini tanpa disadari, sebenarnya orang tua sedang menaburkan bibit kebohongan pada anak. Suatu saat orang tua menyalahkan anak jika suatu waktu anak membohongi dia lalu berkata: Siapa yang mengajari kamu berbohong?
Emang setan yang datang mengajari dia berbohong?
Iya, tidak dong!
Kamulah orang tua yang tanpa sadar membohonginya dan menarik masuk kepada diri anak.
Kita para orang tua yang berperan untuk mengajarkan anak-anak untuk selalu jujur dan dimulai dari perkataan kita yang jujur. Bila bunda tidak mengijinkan dia bermain ketempat yang jauh-jauh, berikan alasan yang benar kenapa tidak boleh main jauh-jauh.
Cukup

Ajarkan anak untuk bisa berkata jujur baik dalam hal menilai sebuah objek atau dalam situasi. Ajarkan anak untuk berkata "tidak" terhadap yang salah atau "ya" jika benar karena ini akan membangun karakter anak yang berprinsip dalam membuat keputusan.



3. Ajarkan Anak kepedulian.

Anak yang peduli

Anak jaman sekarang adalah anak yang sangat sibuk, layaknya orang dewasa yang memiliki banyak rutinitas. Padahal anak-anak ini masih lucu-lucunya bermain, belajar mengeja dan menulis. Medianya pun kadang masih disembarang tempat dan kadang sesukanya coret-coret didinding yang kebetulan ketemu dengan lipstik bundanya. Belum tahu tanggungjwab menjaga kebersihan dan bekerja. Anak yang sudah punya kelas, mereka dituntut hanya untuk belajar mempersiapkan masa depan saja. Disamping itu, orang tua harus ajarkan anak-anak untuk bersosialiasi, walau dengan usia mereka yang masih kecil tetapi itu dapat membangun kepedulian dan juga membantu meningkatkan motorik anak.


Anak yang belum bisa berjalan perlu dibawa keluar berbaur dengan masyarakat lain, karena ketika sesama anak bermain bersama, disitu anak belajar untuk saling memberi dan menerima meskipun hanya berupa mainan saja. Tidak baik bagi anak bila dibiarkan terus-menerus bermain sendirian. Perlu orang lain untuk membangun dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak-anak lain seusianya. Dan itu jika anak tidak hanya sendirian dirumah sibuk dengan mainannya. Bagaimana anak akan melihat dan memahami kebutuhan orang lain jika ia tidak terbiasa dengan teman nyata? Anak perlu berbaur dengan seusianya bahkan diatas usianya. Ajarkan anak untuk saling membutuhkan, tanpa pengajaran ini ia akan menjadi anak yang egois yang hanya sibuk dengan diri sendiri.


4. Ajarkan anak menghormati orang lain.

Anak yang menghormati orang lain

Menghormati orang lain, dimulai dari menghormati orang terdekat dengan memperkenalkan anggota keluarga, mulai dari anak, bapak, ibu, abang, kakak, adek, nenek, kakek dan lain sebagainya.
Terkadang timbul greget dengan anak yang kalau memanggil seseorang, kau, kau, kau...
Ya, ampun anak kecil kok tidak ada adatnya.
Kan begitu kalau dimasyarakat berkomentar. Pasti dibilang tidak beradat, ibumu tidak mengajari sopan santun ya?
Kalau saya bertanya: Siapa yang mengajari, bundamu ya?
Jadi, sasaran empuknya, pasti bundanya.


Anak harus diberitahu panggilan untuk setiap orang dan dimulai dengan yang sering menjalin interaksi dengannya, mulai dari yang tertua sampai yang termuda. Bila anak mencoba memanggil dengan nama apalagi yang lebih tua darinya, orang tua harus buru-buru mengkoreksi dan memberitahu yang benar dan semestinya, sehingga setelah remaja dan dewasa anak terbiasa dengan berperilaku sopan bertata krama terhadap setiap orang. 


5. Ajarkan anak tanggung jawab


Anak yang bertanggungjawab


Hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil, itu metologi yang terbiasa terdengar ditelinga, dan ini berlaku dengan tanggung jawab. Seringkali orang tua terlalu memanjakan anak saking sayangnya terhadap anak.
Apa-apa selalu dituruti, dibela.
Dimarah tetangga, dibela... meski sudah melempari rumah tetangga...
Dimarahin guru, bundanya datangin kepala sekolah, berkoar-koar sampai sekecamatan tahu... Meski sudah melawan guru atau tidak mengerjakan tugas sekolah
Diminta ini, itu dikasih... meski tahu membahayakan anak.


Orang tua tidak berani berlaku tegas kepada anak, padahal ada baiknya kalau anak salah dimarahi. Tujuannya supaya anak tahu tanggungjawabnya, sebagai anak didik, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai anak. Jika anak salah bukan berarti tidak boleh dimarah. Silahkan dimarahi, karena setiap tindakan akan ada konsekwensi, baik konsekwensi baik maupun buruk, dengan begitu anak tahu kesalahannya dan mengajarkannya bagaimana menjadi anak yang bertanggung jawab dan disiplin. Bila ada orang tua tidak terima jika anaknya dimarahi meski dalam batas yang wajar  itu sama saja orang tua sedang membangun generasi yang tidak bertanggungjawab.


Boleh dibela kalau tidak bersalah, atau hukuman melebihi dari kesalahan. Boleh dikasih, dituruti apa yang diminta anak bila masih batas untuk kebaikannya, tetapi jika untuk membantu menjerumuskan anak, lebih baik tunda dulu sampai ia sudah saatnya untuk menerima dan memiliki semua yang dia perlukan.

Waktu kecil, masih SD dulu, saya pernah dimarahi guru, alasannya: karena datang terlambat, tidak mengerjakan tugas atau karena berantam sama teman sekelas.
Saya tidak lantas mengadu kepada orang tua, karena pasti saya akan kena marah lagi, karena saya yang buat kesalahan. Sebaliknya saya akan kasih tahu kepada orang tua saya ketika guru menghukum saya keras. Orang tua tentu melindungi anaknya dari kekejaman penghapus papan tulis yang mendarat diatas kepala atau diujung kuku. Karena untuk mendidik tanggungjawab tidak harus menghancurkan psikis anak dan menciderai tubuh anak. Mendidik harus dengan kasih  kepada perubahan bukan dengan kebencian.


"Rotan baik untuk mendidik anak, supaya ia menjadi manusia yang baik. Lebih baik anak anda sakit sebentar hari ini dari pada ia menjadi anak yang tidak bertanggungjawab dan tidak berguna"


6. Ajarkan anak takut akan TUHAN

Anak yang cinta Tuhan

Warisan orang tua kepada keturanannya yang terbaik bukan uang, jabatan, atau harta duniawinya. Warisan dan harta terbaik yang harus orang tua tinggalkan buat anak adalah roh takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan akan menuntun anak kepada jalan yang benar. Tahukan bagaimana dituntun oleh Tuhan?


Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Hikmat menyeimbangkan hidup anak setelah dewasa. Apabila fokus yang dikejar uang sebanyak mungkin tetapi mengabaikan harta yang sesungguhnya, orang tua seperti ini adalah orang tua yang malang. Uang bukan selamanya teman yang cukup baik untuk mendampingi perjalanan hidup anak. Suatu saat anak bisa bermasalah dengan uang, dan uang tidak dapat membantunya menyelesaikan masalahnya. Percayalah bahwa orang tua semacam ini sedang mengajarkan anak ketamakan. 


Takut akan Tuhan sama dengan filter penyaring kotoran yang masuk kedalam pikiran anak. Ketika ingat Tuhan, ia ingat akan dosa dan hukumannya. Sehingga akan menghentikan langkahnya untuk terjun kejurang kejahatan. Takut Tuhan juga yang membuat anak eneg dengan perilaku para koruptor dan membenci kejahatan. Barangkali ada orang tua yang tidak tahu apa akar dibalik maraknya pencuri dinegeri ini. Artikel ini beritahu, bahwa penyebabnya salah satunya selain kemiskinan adalah karena orang tua lalai mengajari anak beribadah yang benar karena selalu sibuk mengumpulkan harta duniawi dan melupakan ajaran sehat yang dimulai dari ajaran Roh takut akan Tuhan. Berapa banyak orang yang secara keuangan tergolong mapan tetapi selalu merasa miskin (bermental miskin). Yang terjadi, muncullah penjahat berjamaah yang mata rantainya saling mengikat untuk mengeruk harta orang lain.

Saya tidak anti dengan kekayaan, tetapi jika kekayaan tujuan para orang tua dalam membesarkan anak, mereka sedang membangun sebuah pemikiran bahwa uanglah solusi atas semua masalah.

Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Hikmat membuat orang menjadi pintar dan cerdas yang memudahkan orang yang takut kepadanya menyelesaikan masalahnya. Hikmat mengajarkan hidup benar, bersih, peduli, bertanggung jawab dan yang sebetulnya hikmat dapat mencover apapun yang diperlukan manusia.


7.Ajarkan Anak mencintai sesama.


Anak yang cinta sesama


Sesama adalah orang yang naturenya sama dengan kita. apa sih nature manusia? Manusia naturenya saling membutuhkan - mengasihi dan dikasihi. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang sama saling membutuhkan yang berperan dalam mendukung dan melengkapi satu sama lain. Manusia itu berdosa dan tidak sempurna dalam banyak hal, manusia itu berbeda dalam prinsip. Berita baiknya justru oleh perbedaan itu manusia saling melengkapi bukan saling membenci apalagi untuk memunahkan. Terlalu disayangkan apabila anak dalam kelucuannya dijejali oleh doktrin yang bertentangan dengan akal sehat yang justru menciderai kerukunan.

Terlalu banyak ajaran entah dari mana didapatkan polanya yang bertentangan dengan kemanusiaan yang sudah diterapkan dilingkungan pendidikan, dan entah ijin siapa, apakah atas ijin Tuhan? Saya tidak yakin itu ijin Tuhan. Ajaran cinta kasih sesama dihilangkan, demi membesarkan ajaran kebencian disebar luaskan. Orang tua tidak bisa tutup mata akan hal in. Periksa input yang masuk keotak anak dan pendidikan anak sehingga tidak sampai terkontaminasi dengan pengajaran yang demikian. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membendung perilaku buruk dan dengan adanya ajaran untuk saling mencintai sesama yang bersumber dari orang tua maka anak tumbuh besarnya akan melihat sesama adalah teman yang menguntungkan.


Ajarkan anak untuk bisa mencintai sesamanya "banyak teman, banyak rezeki" meskipun dalam perbedaan. Hanya dalam perbedaanlah maka dapat terlihat keindahan dan warna-warni kehidupan. Tak ada bedanya dengan makanan yang anak konsumsi sehari-hari, semakin banyak jenisnya semakin komplit pula gizinya dan semakin sehat tumbuhnya


8. Perkenalkan anak dengan bangsanya

Anak yang cinta bangsa

Anak harus tahu dari sejak kecil siapa dia dan jati dirinya. Apa yang sudah diberikan bangsa kepadanya. Memang anak-anak belum memahami apa itu sebuah bangsa beserta cakupannya. Tetapi orang tua bisa menjelaskan dan memperkenalkan bangsanya melalui simbol-simbol bangsa atau pernak-pernik negara, misalnya: bendera negara, lagu kebangsaan, lambang negara atau cerita-cerita rakyat atau juga bahasanya. Semakin anak dekat dengan simbol-simbol bangsanya tersebut maka anak semakin cinta negaranya.


Tidah heran, orang tua yang berjiwa nasionalis, selalu memperkenalkan budaya leluhurnya kepada anak-anaknya. Sederhananya, bisa dilihat dari cara berpakaian, bahasa sehari-sehari yang digunakan atau memperkenalkan silsilah nenek moyangnya. Kan aneh, ibunya asli orang Jawa - Indonesia tapi diajarkan budaya Timur Tengah.
Maksudnya apa?
Bukankah itu melecehkan bangsa sendiri?. Bayangkan bagaimana caranya anak bisa mencintai bangsanya, sedangkan sehari-hari dilingkungan keluarga yang ditonjolkan budaya bangsa asing.


Perlindungan minta dari bangsanya sendiri, tetapi yang dijunjung dikehidupan sehari-hari adalah bangsa asing.
Sambil ngomel-ngomel dirumah, lalu anaknya bertanya; ada apa bunda?
Ini loh nak pemerintah kita tidak becus mengurus negara. siapa itu negara?
Presiden nak... ooo sambil berlalu bawa mainannya.

8 Rahasia yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis 8 Rahasia  yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis Reviewed by Risda Nababan on September 20, 2018 Rating: 5

Mau Tahu Permainan Anak Jaman Dulu yang Paling Membahagiakan?

June 30, 2018
Permainan Anak-anak jaman dulu


Tiba-tiba teringat jaman dulu pas masih kecil ketika masih dikampung. Sangat indah, bahagia dan menyenangkan. Sekarang masa indah  itu sudah menjadi kenangan setelah beranjak dewasa dan meninggalkan desa itu untuk merantau. Kenangan itu hadir kembali seolah  bernostalgia didalam benak. Kenangan itu datang ketika sudah berlalu dan digantikan dengan baru. Sama seperti; kerinduan kepada seseorang itu datang ketika yang kita rindukan itu tidak ada lagi bersama kita. Permainan itu kita rindukan karena sudah hampir punah digantikan oleh gadget. Untuk mengingat kembali permainan  anak-anak jaman dulu yang paling menyenangkan, saya akan bongkar disini.



Masa-masa indah sewaktu anak-anak itu masih melekat dimemory anda tentunya, karena penuh kebahagiaan, senang, jatuh-bangun, bangkit dan berlari lagi. Jatuh lagi...dan melompat lagi. menangis...dan tertawa lagi. Bertengkar... dan berdamai lagi. Tidak ada yang melarang tetapi tidak juga merugikan orang lain.

Setelah sekian lama bayangan itu hilang dari benakku, tiba-tiba saja ada yang mengusiknya kembali. Bukan ingin kembali ke masa kanak-kanak, bukan!... jangan salah sangka. Ini terjadi saat kami duduk bersama dengan teman-teman didepan rumah. Saat itu saya berceloteh tentang kejadian masa kecil dikampung. Mungkin kalian yang lahir tahun 80-an kebawah, ingat kejadian-kejadian yang membuat kita merasa ketakutan. Tetapi begitu di kenang kembali, menjadi bahan candaan dan tertawaan karena rasanya menggelitik.


Pada waktu kita masih kanak-kanak, pasti pernah dengar berita tentang tukang culik manusia, atau tukang potong kepala manusia, bukan? Berita ini penyebab ketakutan anak-anak kala itu. Saya mengira bahwa cerita ini hanya ada ditempat kelahiran saya. Rupanya setelah aku ceritakan tentang penculikan itu, baru aku tahu, ternyata mereka yang jauh di provinsi sana, juga mengalami ketakukan yang sama. Oalah...ternyata berita itu merebak kemana-mana. Kami pun saling sahut-sahutan bersemangat menceritakan pengalaman kami masing-masing. Ternyata dijaman yang sama, pengalaman pun dibilang hampir sama dan sama-sama menyenangkan.


Berbeda dengan jaman sekarang. Mulai yang lahir tahun 90-an, pengalaman itu mulai tersingkir. Sedangkan yang lahirnya tahun 2000 keatas, pengalaman itu sudah tergerus oleh arus gadget dan teknologi. Jadi, kemungkinan besar,  anak jaman now  tidak tahu bahkan tidak pernah mendengar cerita ini. Mereka tidak lagi bermain disawah, dikebun dan dihutan-hutan seperti saya dulu. Jaman sudah berubah dan mengubah pula gaya hidup mereka. Jadi harap maklum.

Anak-anak sebelum jaman Gadget dan teknologi, tanah dan lumpur menjadi sahabat bermain.  Air hujan menjadi kegirangan mereka, dan pematang sawah menjadi kegembiraan mereka. Tidak ada rasa jijik, dan tidak takut dengan yang namanya tidak "higienis". Hidup mereka tidak kaku, melainkan penuh keceriaan.


Hampir setiap orang yang lahir didesa merasakan pengalaman indah ini. Mungkin ini menjadi pengulang memory anda saat kanak-kanak dulu. Dan anda pun tertawa senang saat membayangkan diri anda dijaman itu, dan ini terjadi:


1. Bermain sambil menggembalakan kerbau dipadang dan di sawah


Gembala Kerbau sambil bermain

Sebelum berangkat kesekolah, masih pagi-pagi buta, orang tua sudah pesan terlebih dahulu kepada anak: nanti siang setelah pulang dari sekolah, jangan lupa kerbau ada disana (dipadang atau disawah).  Sampai dirumah, lepas sepatu, ganti baju, ambil makan didapur - makan. Tanpa manja minta lauk-pauk yang enak. Anak-anak terlatih bak prajurit perang yang siap melanjutkan perangnya di medan penggembalaan.

Anak-anak didesa sudah terbiasa dengan kondisi ini, apalagi yang harus digerutu? Mereka senang-senang saja menikmati hidup mereka bersama dengan kerbau. Bau??...„Ah...itu sudah soal biasa nempel dihidung mereka, bahkan barangkali aroma itu tidak tercium bau lagi karena udah terbiasa.


Mereka menggembala tidak juga diupah dengan jajanan atau disediakan gadget supaya lupa waktu. Cukup makan kenyang dari rumah, selebihnya cari makanan dihutan. Hutan Indonesia kan kaya raya loh, lalu untuk apa cari jajanan?  Jadi orang desa itu sangat mengerti dan menikmati apa itu kekayaan Indonesia ini. Kalian yang lahir dikota, apakah kalian menikmati? Saya yakin tidak. Kok bisa? Iya....fakta karena kalian tidak menikmati kekayaan Indonesia sehingga kalian tidak pernah menghargai Indonesia.  Simpel kan?


2. Berkejar-kejaran di batang kopi sambil memetik kopi.


Kebun Kopi

Ini pengalaman kanak-kanak saya yang paling seru dan menyenangkan. Ini bukan sejenis permainan tapi ini "kreativitas".

Saya punya nenek, saya baru menyadari saat saya menulis artikel ini, bahwa nenekku ini orangnya sangat visioner (hehehe).

Nenekku ini punya sebidang tanaman kopi tidak terlalu luas. Bapakku anak tengah kebenaran pula dapat warisan tanaman kopi ini. Rimbun sekali dan ranting-rantingnya merambat sambil sambut menyambut dengan ranting yang lain keseluruh penjuru mata angin (tidak seperti gambar ya teman jauh daripada gambar itu soal keindahannya). Pokoknya kalau dilihat dari atas, misalnya panjat jeruk, tidak ada kelihatan celah/tanah. Diantara tanaman kopi tersebut ada juga pohon jeruk.

Beliau tahu bahwa kopi ini menjadi salah satu sumber keceriaan kami. Lagi pula setelah nenekku meninggal, Kopi ini menjadi tempat favorit saya, kenapa? Pasti ada alasannya.

Selain tempat bermain untuk mengekspresikan diri saya, Kopi ini juga memberikan saya penghasilan. Jadi, sewaktu kanak-kanak saya bisa dapat uang dari hasil jual kopi ini. Saya tinggal petik, lalu saya jual ke pengepul. Nenekku menyediakan keceriaan yang plus-plus. Bermain, kreatif (bayangin, bermain aja pake kreatif) dan juga dapat uang. Orang tua kami tidak menghiraukan hasil dari kopi ini untuk biaya hidup kami. Orang tua kami punya usaha lain untuk kebutuhan kami. Jadi kami pun bebas memperjual belikan hasil kopi ini. Tapi itu setelah nenekku meninggal. Semasa hidupnya kami dimarah bermain disitu. Oh...nenekku sayang...!!


3. Mencari kayu bakar sambil berburu dan mengumpulkan buah Harimonting (sejenis blueberry)


kayu bakar versus bluberry - harimonting

Coba tanya, anak-anak dikota, apa mereka kenal dengan harimonting? Jangankan Harimonting, batang bunga kol saja tidak tahu, dipikir itu berasal dari pohon (mungkin sejenis pohon Pinus). Lucunya anak kota bilang; ngapain bangun infrastruktur emangnya masyarkat Indonesia makan aspal? Itulah goblok orang kota. Jadi apa yang saya bilang: orang desalah yang tahu sesungguhnya Indonesia itu apa dan bagaimana. Meski dianggap kere dan kampungan, tidak ada sebaik orang desa mengenal negerinya sendiri.

Oke kembali ke inti.

Ini salah satu pekerjaan anak-anak didesa. Mereka terbiasa pikul beban, mencari kayu bakar dihutan (makanya orang desa setrooong) gak kayak orang kota yang suka berdemo. Tapi anehnya, sebagian besar orang desa tidak menganggap ini bagian dari pekerjaan. Bayangkan tanpa diperintah orang tua, mereka pergi saja cari kayu. Hanya dengan ajakan teman mereka dengan sukarela bantu orang tua.(two tumbs)


Walaupun cari kayu bakar merupakan bagian dari pekerjaan, tapi tidak dengan kanak-kanak, malah sebaliknya dianggap bagian dari permainan. Mereka tidak cuma bermain dihalaman, tetapi bermain dihutan sambil bersenang-senang. Mencari kayu bakar sambil mengumpulkan harimonting dan hail-hail (buahnya bulat melonjong warna merah kalau sudah matang dan rasanya manis). Atau ada yang hobi cari burung (termasuk saya, melirik dan memanjat dahan-dahan jika terlihat ada sarang burung). Apalagi yang diharapkan anak-anak selain berkumpul bersama teman-temannya sambil bernyanyi riang? Mereka sangat bersahabat dan menikmati alam mereka.



4. Mengambil air diladang yang berasal dari mata air sambil mencuri Kacang tanah karena milik tetangga serasa milik bersama


tanaman kacang


Sayapun waktu kecil melakukan ini sobat. Orang tua tidak mengajari kita mencuri ya teman, tolong di catat. Ini murni kenakalan anak-anak. Orang yang punya tanaman juga tidak akan marah., dan alasannya:

Yang pertama: karena yang melakukan anak-anak. Mereka para orang tua ini bijaksana. Sadar mereka punya anak, pasti anaknya pun melakukan hal yang sama.

Yang kedua: anak-anak mengambil bukan untuk dijual atau dibawa kerumah. Anak-anak ini mencuri untuk dimakan saat itulah.

Yang ketiga: karena saling menyadari kenakalan anak-anak, orang tua tidak datang menyerang anak, lalu memarahi dan memukul anak yang mencuri. Tidak juga meneror keluarga anak yang mencuri. So, impas-impasanlah

Yang keempat: Setelah mencuri, nanti bisa kok dikasih tau sama pemilik tanaman bahwa kita sudah masuk keladangnya dan mengambil hasilnya. Pasti tidak kena marah apalagi dapat hukuman.

Tapi, sekarang jangan kamu lakukan itu, kalau tidak kalian akan dihajar massa dan berurusan dengan hukum. Sudah lain generasinya dan lain pula jamannya. Karena sekarang generasi gadget, dikit-dikit cekrek, dikit-dikit viral. Hukumanmu bisa lebih berat dari yang sudah kamu perbuat. Harap bijaksana menyikapi jaman. Karena generasi kalian sudah ditindas oleh gadget. Jadi kalian tidak akan pernah bisa menikmati seindah masa kanak-kanak dulu...(serasa sudah tua sangat..hehehehe..)


5. Mandi dikali bersama  anak kampung (anak lelaki dan anak perempuan karena belum tahu malu)



mandi di kali


Tidak peduli apakah air tempat mereka bermain itu bersih atau kotor. Itu bukan ukuran yang pertama bagi anak-anak-anak didesa. Yang penting hasrat mereka terpenuhi. 

Maklum didesa saat itu tidak ada wahana bermain anak-anak. Tidak anda Ancol, Amanzi, tidak ada Timezone, tidak ada kolam renang dan permainan seru lainnya. Tempat rekreasi mereka yaitu sungai, kali, sawah dan gunung. Apakah mereka iri dengan mereka yang tinggal dikota, lalu merengek-rengek ingin kekota? Itu tidak terlintas dipikiran mereka. Mereka lebih bahagia dengan apa yang sudah mereka nikmati.

Hidup mereka alami, tanpa gadget tanpa teknologi, dan mereka tanpa kekurangan kebahagiaan 
Mereka hidup dalam kesederhanaan dan tanpa banyak menuntut.


6. Bermain-main dihalaman sepuas hati


permainan seru ank-anak


Emang sih ya, tidak bisa dipungkiri dan tidak bisa dipersalahkan, gadget dan teknologi sudah menjadi bagian dari perkembangan jaman. Setiap jaman mengambil  perannya masing-masing. Sekarang tergantung saringannnya dikita. Zaman tetap memaksa kita untuk mengikutinya dan nyaris meninggalkan apapun yang dianggap "dulu dan menjadi kuno" dan apa yang dulu dipandang sebagai kebahagiaan sekarang mulai tersisihkan dan dianggap sebagai bagian dari masa lalu.

Gadget banyak menggeser budaya baik manusia. Persaudaraan yang begitu hangat mulai dingin. Sahabat menjadi lawan. Dari kebersamaan menjadi individual. Semua tergeser.

Dulu, bila sore sudah tiba, halaman kampung ramai dengan hiruk-pikuk. Saat itu adalah kesempatan buat anak-anak bermain. Ibu-ibu berkumpul dengan riangnya. Ada yang ngerumpi sampai cari kutu hingga berderet-deret. Kini, hal itu sudah menjadi pemandangan langka. Ibu-ibu jaman sekarang (mak jaman now) lebih suka nge-gosip di media sosial.. Mata mereka terbelalak memelototi gadget, bisa habis berlalu sehari dengan gadget mereka, bahkan yang lebih miris - anak diabaikan. Gadget lebih penting dari anak...Sereeeemmm. Sebaliknya anak pun dijejali gadget yang penting bisa diam, dan ibu bisa aman dan nyaman ber-gosip tanpa rengekan sang bocah.

Oke... tahu kan kalian apa-apa saja permainan yang kamu pernah lakukan dihalaman rumah. Tahukan kalian, ada banyak manfaat loh anak yang bermain diluar ruangan?

  • Mengasah system motorik anak sehingga anak lebih kreatif.
  • Membantu anak mengenali lingkungannya.
  • mengembangkan hubungan anak secara terpadu
  • dll

Nah, berikut ini beberapa jenis permainan yang banyak dimainkan oleh anak-anak. Nih saya sebutkan ya, entar kalau kurang kalian bisa tambah dikomen.

  1. Main kelereng. 
  2. Main lompat galah
  3. Main kasti
  4. Main petak umpet
  5. Main iye-iye
  6. Main layang-layang
  7. Main angkling
  8. Banyak yang tidak saya tahu.


7. Memburu penjual burukan (sega-sega - bhs Batak) untuk membeli es.


Tahukan kalau didesa itu jarang ada warung atau penjual jajanan. Orang desa belanjanya sekali seminggu kepasar - biasa disebut pasar kalangan. Maklumlah mau jajan tidak ada uang. Bagaimana berjualan kalau barang tidak laku? Siapa yang beli?

Sesekali adalah tukang es datang kekampung-kampung menjajakan es -nya. Tujuan sebenarnya bapak tukang es ini bukan jualan es atau bukan profesi sebagai penjual es. Tapi bapak ini sebenarnya pengumpul barang bekas.

Bapak ini membayar barang bekas yang diterima dari anak-anak dengan es. Setiap kali dengar suara pupek-pupek (bunyi ciri khas penjual es), anak-anak langsung keluar cari sibapak penjual es tadi. Karena si bapak pupek-pupek tadi jarang datang, biasanya anak-anak sudah mengumpulkan barang bekas untuk dijual. Begitu dari kejauhan terdengar suara pupek-pupek maka anak-anak bergegas mendekati sibapak untuk menukarkan barang bekas tadi dengan uang maupun es.


Jadi, sebenarnya sebelum jaman gadget anak-anak desa ini sudah bisa mandiri. Oke, berhubung sudah panjang lebar saya bercerita, saya cukupkan sampai disini. Intinya apapun dan digenerasi apapun kamu hidup sekarang ini, tetaplah bisa menikmati masa hidupnya. Jaman itu ada untuk kemudahan dan untuk dinikmati bukan untuk menindas. Be smart...be happy..

Mau Tahu Permainan Anak Jaman Dulu yang Paling Membahagiakan? Mau Tahu Permainan Anak Jaman Dulu yang Paling Membahagiakan? Reviewed by Risda Nababan on June 30, 2018 Rating: 5

Hati - hati, Bahaya Generasi Micin

December 16, 2017
Menyikapi dengan populernya sebutan generasi micin yang banyak dipakai orang pada jaman sekarang terhadap orang-orang yang dianggap sebagai "orang bodoh" karena sering melakukan tindakan yang memang benar - benar dianggap bodoh. Penggunaan kalimat ini begitu populernya dikalangan pengguna media sosial sejak kampanye pertarungan Pilkada DKI 2016 silam, tetapi yang membuat hati pilu pertarungan itu tidak berhenti hanya di pemilu saja, tetapi masih terus berlanjut sampai hari ini dan membuat banyak orang menjadi korban.


generasi perusak budaya
gambar : Google

Generasi micin bukanlah sebutan yang baik bagi generasi ini, bagaimana pun setiap orang mengharapkan sebuah generasi yang bisa membawa dirinya dan bangsanya kearah yang lebih baik, sayangnya, begitu banyak orang yang tidak lagi bisa berpikir menggunakan pola pikirnya dengan cerdas tetapi menggunakan emosi dan otot untuk melakukan sebuah  tindakan baik untuk pembelaan ataupun perlawanan.


Melihat keadaan sekarang ini saya pikir sebutan generasi micin yang disematkan kepada beberapa orang ada benarnya, bagaimana tidak, diera teknologi yang serba terbuka harusnya membuat generasi ini menjadi melek informasi dan pengetahuan. Keterbukaan informasi memungkinkan setiap orang bisa dengan mudah mengakses hal-hal yang ada dimuka bumi ini, tetapi yang terjadi begitu banyak orang yang hanya menonjolkan ego dan emosi dan hanya ingin ikutan saja atau cuma numpang tenar tanpa mengkaji terlebih dulu sebelum melakukan sesuatu. Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran sebagian orang jaman sekarang, apakah karena kelebihan dosis atau kurang dosis (pengajaran)?.


Genarasi micin bukan tanpa sebab musabab timbul kepermukaan, dan dari analisa saya, Saya menduga itu karena banyaknya orang yang senang pamer kebodohan, entah karena berlagak bodoh padahal pintar atau benar-benar bodoh sehingga tidak mampu menganlisa apa yang keluar dari mulutnya. Suara-suara cempreng yang tanpa makna dan penuh kebodohan dan pembodohan terdengar dan terlihat dimana-mana. Anehnya tidak banyak yang menguji setiap kata perkata atau kalimat per kalimat yang masuk ketelinga mereka. Jadi timbul pertanyaan: Kenapa jadi banyak orang yang bodoh dijaman milenial ini dengan sumber pengetahuan yang super canggih?, apakah karena pengaruh makan micin seperti yang sering disebut orang sehingga disebut sebagai generasi micin yang konotasinya sebagai generasi bodoh? Dari sekian banyak tindakan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, saya merangkum beberapa tindakan yang sangat berbahaya bagi generasi kini dan generasi mendatang. Dan inilah contoh-contoh yang gemar dilakukan oleh generasi yang orang sebut sebagai generasi micin:


1. Generasi micin adalah generasi yang menonjolkan kebodohan



belajar keluar dari kebodohan
Otak digunakan digunakan untuk menimbang banyak hal


Mengajarkan sesuatu kepada orang lain padahal ia sendiri tidak mengerti lebih dahulu apa yang diajarkan sehingga jadilah sebuah ajaran bahlul. Muka buruk cermin retak

Banyak yang mengaku-ngaku ahli agama, pendidik, tokoh dan pengajar sampai penyampai firman tapi anehnya tidak tahu apakah yang diajarkan dan disampaikan sebuah kebenaran atau tidak, membangun atau malah memprovokasi serta memecah belah. Perkataan yang disampaikan tidak terlebih dulu dianalisa dan diuji apakah menyinggung orang lain atau tidak merupakan suatu tindakan kebodohan dan pembodohan yang sangat nyata fan berbahaya?. Akibatnya perkataan dan ucapan kosong yang tiada makna menjadi cambuk bagi tubuh sendiri dan jadi dilema dimasyarakat.


Sebagai seorang tokoh atau sebagai seorang pemberita harusnya tahu cara berbicara tanpa membuat berbagai spekulasi dimasyarakat yang dapat mendorong berbagai opini dikalangan masyarakat yang beraneka ragam ini. Sudah sangat banyak tokoh agama dan tokoh masyarakat justru memberikan bibit racun kepada masyarakat karena tidak menjaga ujaran, ajarannya dan ucapan lidahnya dengan baik sehingga akibat pemberitaan yang salah justru menjadi kontroversi dimasyarakat dan menimbulkan perpecahan karena adanya pro dan kontra yang menyulut amarah pada berbagai pihak. Seharusnya sebagai seorang pemberita, penyampai firman harusnya mengerti, memahami terlebih dahulu apa yang sedang disampaikan, dan diajarkan kepada anak-anak atau umatnya karena jika tidak mengerti dan memahami apa yang disampaikan bisa menjadi cambuk khususnya bagi tubuh sendiri, harus memperhatikan ajarannnya jangan sampai menabrak norma-norma yang ada dan menyakiti hati orang lain.


Dalam sebuah fakta sebagai contoh nyata adalah bagaimana seorang tokoh dengan ketidakmampuan dalam membedakan antara simbol palang merah - kemanusiaan (ambulance) dengan symbol sebuah agama. Padahal hanya dengan melihat sekilas sajapun bisa sangat jelas terlihat perbedaanya.


Seharusnya seorang publik figur maupun tokoh sebelum menyampaikan sesuatu apalagi yang sangat prinsip dan krusial alangkah sangat bijak bila mempelajari terlebih dahulu apa yang hendak diajarkan kecuali karena memang ada unsur kesengajaan. Dalam setiap ajaran tidak boleh ada unsur emosi dan kebencian karena dampaknya akan buruk dan luas sekali. Sebelum menyampaikan sesuatu terlebih kepada khalayak ramai dibutuhkan referensi untuk meneguhkan perkataan itu. Banyak referensi yang bisa dipakai sebagai sumber untuk mencari informasi yang bisa dibaca dan dipelajari supaya tidak dicap sebagai orang bodoh yang asal bicara yang mengarah kepada melakukan tindakan pembodohan.


2. Generasi micin adalah generasi copas alias NOL ide.

Yang terjadi sekarang ini banyak orang hanya copypaste, sehingga tidak ada ubahnya seperti seekor burung beo yang menirukan apa yang disuarakan oleh tuannya. Tidak bisa mengkaji secara nalar apa yang diterima oleh telinga, jadilah generasi copas (copy paste)

Menyampaikan sesuatu hanya berdasarkan copy paste tanpa mau menyelidiki sebuah fakta akan berakibat buruk bagi sebuah peradaban. Inilah bahaya besar yang dialami generasi sekarang sehingga generasi micin layak disematkan kepada orang yang hanya modal copy paste.

Memang manusia menginginkan sesuatu yang praktis, tetapi tidak harus membuat orang malas berpikir dalam melahirkan ide untuk mengalisa sebuah berita dan ajaran apakah benar atau palsu. Kebiasaan sebagian orang dengan kehidupan yang serba instan tidak lagi bisa mencerna setiap ajaran yang masuk kepikirannya melalui informasi secara konfrehensip, padahal diera keterbukaan, orang lebih bisa dengan mudah mendapat sebuah informasi dari sumber yang benar dan tentu tujuannya baik di masyarakat.


3. Suka ajaran yang bisa meninabobokan telinga.

Apapun perkataan yang keluar apalagi dari seorang tokoh yang dianggap terpandang dan diidolakan banyak orang akan dengan cepat ditelan mentah-mentah,  ajarannya dan perkataannya akan dibela meskipun sarat dengan kesalahan dan tipuan. Seorang tokoh yang sangat diidolakan akan sulit melihat kesalahan yang dilakukan idola tersebut, padahal apabila terlalu mengidolakan seorang tokoh bisa menjadi berhala bagi sang pengidola dan itu yang banyak terjadi sekarang ini.

Hal ini kita bisa lihat pada masyarakat, media elektronik dan media sosial, jika seorang tokoh yang menyampikan sebuah ajaran dan meski ajaran itu menyimpang dari ajaran universal akan dibela habis-habisan apakah karena alasan uang atau perut atau karena tidak mampu lagi melihat kesalahan yang dilakukan karena sudah terlalu nyaman dengan nyanyian ninabobo, yang salah jadi benar yang benar jadi salah. Nggak percaya ?Cek aja diakun-akun media sosial terutama pada kolom-kolom komentar. Banyak yang suka dengan dengan janji-janji manis dari manusia meskipun itu menyesatkan


4. Generasi micin tidak menggunakan otaknya secara cerdas.

Banyak orang sekarang ini belajar sesuatu hanya dari apa kata orang, hanya dari media sosial dan internet. Padahal banyak sumber lain yang bisa dipelajari termasuk dari kitab masing-masing sebagai dan merupakan sumber terbaik sumber ilmu pengetahuan dan kecerdasan. Saya tidak menyalahkan orang untuk belajar dari internet atau media sosial lainnya karena sayapun melakukannya, hanya saja yang sangat disayangkan, generasi micin tidak menggunakan rujukan kepada guru aslinya atau guru induk yang bisa menyajikan informasi, pengajaran, pengetahuan dan moralitas yang akurat dan memang kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan.

Saya tidak tahu apabila seseorang menyampaikan sebuah ajaran apakah merujuk kepada kitab aslinya atau tidak,  yang dikhawatirkan jangan sampai informasi dan pemberitaan yang disampaikan dari hasil dengar-dengar dan tidak penuh alias setengah-setengah. Karena apabila ada penyimpangan masyarakatlah yang menerima dari buah pengajaran tersebut.


5. Generasi micin genarasi yang suka memaksa.

Suka memaksa orang kepada pemahamannya yang dangkal dan keliru. Menjudge orang lain dengan pemikirannya, sekalipun orang lain sudah jelas jelas tidak sepaham dan seprinsip dengannya. Yang lebih parah menganggap lebih mengerti prinsip orang lain oleh karena itu tak ayal ia akan sering menunjukkan sebuah kebodohan akibat dari pemaksaan. Karena bagaimanapun tidak mungkin terang menyatu dengan gelap. Sungguh tidak ada kamusnya itu.


Ditengah keberagaman dan perbedaan, setiap orang memiliki pemahamannya sendiri terhadap ajaran yang diyakini. Tidak boleh memaksa kehendak supaya pemahaman seseorang sama dengan pemahaman orang lain, dan apa yang di yakini juga harus diyakini orang lain.

Saya banyak menemukan hal ini didebat-debat yang biasa terdapat dikolom komentar pada media soaial., padahal ia sendiri tidak memahami keyakinan orang lain tetapi dengan naifnya memaksa apa yang dia yakini harus juga diyakini oleh orang yang tidak sekeyakinan dengannya. Terlihat sangat konyol tetapi fakta ini mengisyaratkan kepada kita betapa konyolnya generasi micin.


6. Generasi micin adalah generasi penebar kebencian.

Orang mengharapkan damai tetapi damai tidak datang; bagaimana bisa datang? karena dijaman sekarang terlalu banyak orang yang menebar kebencian dan karena damai datang hanya kepada orang atau bangsa yang suka damai.

  • Tidak mungkin berkat datang jika yang ditabur adalah kutuk.
  • Tidak mungkin keadilan datang kepada orang yang tidak berpikirpun apalagi bertindak berbuat adil.
  • Tidak mungkin keamanan datang jika dipikiran dan tindakan hanya kerusuhan. 
  • Tidak mungkin bahagia bila hasrat hanya ingin bikin orang susah dan pembuat masalah. 
Hukum itu kekal dan berlaku bagi siapa saja, apa yang ditabur itu juga yang dituai.


Seperti yang nyata dimedia- media, nyaris tidak bisa ditemukan komentar sehat yang mengandung budaya damai, kasih, persaudaraan, semua berlomba-lomba melampiaskan kekesalan, kemarahan dan kebencian kepada orang yang dianggap tidak sepaham dengannya. Bila ada kesempatan semua berusaha adu argumen, adu kambimg, adu kebodohan, pakai bahasa yang mengancam  lagi. Bayangkan ini terjadi beberapa kurun waktu, warisan apa yang diterima oleh generasi ini dan generasi yang akan datang. Mungkin suatu saat mereka akan berkata; kenapa saya harus ada diwarisan pembenci, pemarah dan penghujat?


7. Generasi micin berotak tumpul.

Kebodohan muncul karena kemalasan, malas belajar malas menggali sesuatu untuk sebuah pemahaman baru. Tanpa dibekali ilmu pengetahuan dan pemahaman dan pengenalan si otak tumpul sudah berani koar-koar seolah memiliki segudang pemahaman dan pengetahuan ternyata  hanya seujung kuku yang akhirnya menjadi bulan-bulanan dan bahan olok-olokan. Bukan jadi berkat malah jadi batu sandungan akibatnya tetsandung dengan batu kebodohan. Yang mengajarkan bodoh yang mendengar juga bodoh, sama-sama bodoh akhirnya terlepar kedalam kubangan kebodohan akhirnya kebodohan kekalpun terjadi. Jadi, binasa karena kebodohan.


8. Generasi micin tidak dapat beradaptasi.

Sebuah pepatah lama berkata: Dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak; artinya bahwa dimanapun seseorang menjunjung langit wajib hukumnya ikut budaya dimana ia berpijak. Bila sebelumnya budaya yang dianut adalah budaya barbar, bila masuk wilayah orang harus bisa menempatkan diri dimana ia berpijak/ tinggal, jangan bawa budaya barbar jika saat berada diwilayah yang memegang budaya damai, kasih, budaya yang menghargai perbedaan, itu namanya manusia tidak tahu diri dan tidak tahu di untung. Bagaimana tidak disebut tidak tahu diri, Wilayah sudah menjamin keamanan, hidup gratis, bebas menggunakan sumber daya alam masih berkhianat dengan membawa budaya barbar sehingga menggangu ketentraman umum.


9. Generasi micin adalah generasi yang baperan.

Tentang hal apapun selalu memposisikan diri sebagai pribadi dan kelompok yang teraniya dan dianiya, merasa selalu dipersalahkan sehingga menganggap bahwa dirinya sebagai korban karena tidak memiliki gambar diri yang jelas dan benar. Seandainya walau sedikit memiliki gambar diri yang benar saya yakin ia akan bisa melihat dan menempatkan segala sesuatu pada posisi dan porsi yang tepat. Bahaya dari orang atau kelompok yang selalu baperan adalah sangat mudah tersinggung walau tanpa alasan, selalu menaruh curiga walau orang lain niatnya baik.

Orang yang selalu baperan akan sulit diterima oleh orang lain, kecuali karena memang sama-sama baperan maka klop dah bahasanya.


10. Generasi micin generasi yang tidak berwawasan luas.

Wawasan itu perlu dalam menyeimbangkan antara keyakinan, pengetahuan dan pemahaman. Jangan menjadi seperti katak dalam tempurung, apalagi dalam menyampaikan sesuatu kepada khalayak ramai jangan cuma modal pas-pasan. Dunia ini jangan dibuat sempit oleh pemikiran yang kerdil, karena jika itu yang dibawa maka yang terjadi hanyalah kesombongan dalam kebodohan, itu juga yang menyebabkan sebagian orang, tubuh dijaman millenial tapi otak tertinggal dijaman batu. Hati membatu sehingga tidak punya peluang untuk mengasihi, menghargai dan memanusiakan manusia sebagaimana layaknya manusia sama dimata Tuhan dan ciptaan Tuhan.


11. Generasi micin adalah generasi pengutuk.


perilaku generasi micin yang sedang ucapan kutukan
Badai merupakan akibat dari ucapan kutuk


Saya sering heran dengan orang jaman sekarang yang senang dengan ucapan - ucapan kutuk, seperti tidak ada pengontrol dalam mulut dalam berkata - kata. Merasa dalam berbicara tidak ada konsekwensi yang mungkin terjadi, padahal jika memiliki kecerdasan dengan melihat apa yang sering terjadi di depan mata, seharusnya orang yang suka mengutuk bisa mengambil sebuah pelajaran apa yang mendasari setiap kejadian yang terjadi. Dengan kata lain dengan ucapan - ucapan kutuk yang sering diucapkan dapat mengubah atmosfir dimana ia mengucapkan kutuk tersebut. Kutuk yang sering diucapkan tidak selalu terlaksana terhadap orang atau kelompok yang di serang, karena kutuk hanya berlaku kepada orang yang yang melakukan kejahatan bukan kepada orang yang dalam kebenaran atau kebaikan. Atau dengan bahasa sederhananya alam punya keadilan juga.

Banyak orang yang menjerit ketika menghadapi sebuah masalah dan bencana. Siapakah yang akan di persalahkan dengan kejadian - kejadian ini? Seringkali manusia tidak merasa bersalah dengan apa yang menimpa suatu daerah atau wilayah atau bahkan diri sendiri dan malah sibuk menyalahkan orang lain, kutuk - mengutuk, kecam - mengecam, hujat - menghujat yang padahal bisa saja ucapan kutuk yang pernah keluar dari mulut seseorang itulah yang menyebabkan masalah dan bencana menimpa dirinya. Berhentilah dari sekarang mengutuk apalagi sudah ada yang mengingatkan, alangkah baiknya jika sesama manusia saling membangun, saling memberkati. Bagaimana, anda setuju dengan saya?



Bagaimana cara memperoleh gambar diri atau citra diri yang benar?



Hati - hati, Bahaya Generasi Micin Hati - hati, Bahaya  Generasi Micin Reviewed by Risda Nababan on December 16, 2017 Rating: 5
Powered by Blogger.