Cara Membunuh Ayam secara perlahan tapi pasti


Ayam-ayam ini yang selalu menyusahkan saya dari pagi ketemu pagi lagi. Hari-hari saya selalu disibukkan dengan urusan kotoran ayam yang selalu berserakan dihalaman rumah. Sampah-sampah yang tadinya rapi berada di tong sampah, diserakkan. Bahkan depan rumah yang dikasih semen hancur dikais-kais. Aku bermaksud ingin membereskan ayam-ayam ini sampai akar-akarnya supaya tidak lagi membuat pekerjaan baru bagi saya.

Padahal aku sudah sengaja mengusir-usir ayam ini menggunakan sapu atau melemparkan apa saja yang ada dihadapan saya kalau pas masuk dalam rumah.


Awalnya saya tidak usil dengan tetangga saya yang memelihara ayam di halaman rumah. Karena pada saat itu jumlahnya masih beberapa ekor. Saya memang tidak anti pati dengan binatang peliharaan. Seperti anjing, kucing, burung ataupun ayam.


Tetapi kali ini saya benar-benar dibuat kesal dan habis kesabaran karena jumlah binatang peliharaannya terus bertambah dan semakin menimbulkan bau taik ayam tentunya. Bukan karena jumlahnya yang terus bertumbuh yang akhirnya membuat saya jadi tidak senang. Kalau tempatnya layak tidak masalah buat saya. Misalnya, buat kandang ayam dibelakang rumahnya. Selain bau juga menimbulkan penyakit. Apalagi kalau cuaca lagi hujan.


Bagi kami yang penting tidak mengganggu kenyaman saya dan juga tetangga yang berdekatan dengannya. Tetapi ini sudah tempatnya tidak ideal untuk beternak ayam, jumlahnya pun terus bertambah. Otomatis kalau jumlah ayamnya terus bertambah maka tahi ayamnya juga akan meningkat.


Saya pernah menanam tananam dipekarangan rumah, oleh ayam-ayam ini, tanaman saya ludes tak bersisa. Waktu itu saya sempat marah dan mengancam; kalau ayam-ayam ini masih menghabisi tanaman saya jangan salahkan kalau ayamnya kenapa-napa.


Kalau sengaja ayam-ayam itu datang menghampiri pintu dan halaman rumah saya dan saya melempar, ya maunya saya pemilik ayam mengertilah, itu tandanya saya sudah memberi isyarat tentang ayam-ayam tersebut. Dengan kata lain, responlah sinyal itu.


Lagian ya apa yang punya peliharaan tidak sadar bahwa tempat ia memelihara ayam bukanlah tempat yang cocok?. Harusnya ia risihlah, masa kandang ayam di buat didepan rumah? Kalau jauh masih mendingan, ini jaraknya dari pintu rumahnya cuma 2 meter.


Sepulang dari kantor, selalu disajikan oleh-oleh tahi ayam baik didepan pintu dan disepanjang halaman rumah. Mungkin tetangga kami ini mengira kami senang kalau kami selalu disuguhi dengan pemandangan yang eksotis begitu?


Perihal ini kadang saya singgung secara halus kepada pemilik ayam. Harapan saya, ia mengerti dan mengambil tindakan. Ya, kalau memang ayam itu jadi nyawanya dia, setidaknya dikurangi iya kan. Lebih bagus lagi kalau ia dengan senang hati memotong ayam sebagai ucapan terimakasih kepada warga yang sudah setiap saat rela mencium tahi ayamnya.


Kalau dipotong, saya bersedia untuk makannya. Tapi kalau untuk melanjutkan mengembangbiakkan, ya tolonglah, sudahi. 


Sebenarnya kami punya hak untuk menegor secara langsung, tetapi kadang mikir, kita tetanggaan. Jangan sampai karena kita tegor hubungan bertetangga jadi rusak. Karena alasan menjaga hubungan tetangga jangan sampai rusak inilah kita tetap berusaha mengekang mulut.


Sampai pada suatu titik rasanya saya ingin mengutarakan maksud keberatan saya ini. Sampai saya bingung, pakai bahasa apa untuk menyampaikannya supaya jangan sampai dia tersinggung. Namanya juga tetangga harus saling menjaga perasaan. Karena kalau ada apa-apa semisal ada kejadian yang tidak diduga, tetanggalah yang terlebih dulu mengetahuinya bahkan mungkin menolong kita. Atau ada keperluan yang mendadak, kepada tetanggalah kita yang pertama minta tolong.


Tetapi kali ini, memang emosi saya sudah diubun-ubun. Rasanya tidak tahan lagi terus-terusan mencium wanginya bau tahi ayam ini. Mana lagi sepanjang jalan menuju rumah sudah dihiasi dengan kotoran ayam. Jadi kalau seandaimya kita tidak pakai sandal keluar rumah, maka yang menempel ditelapak kaki adalah kotoran ayam. Atau jika angin berhembus menerbangkan sesuatu yang ada didepan atau halaman rumah, yang beterbangan itu sudah pasti campuran kotoran ayam. Bahkan udara yang saya hirup pun terasa gatal ditenggorokan.


Bayangkan, apa yang kami hirup adalah campuran tahi ayam. Betapa kumuh dan kotornya tempat kami bernaung akibat pelihara ayam ditempat yang tidak semestinya. Namun untuk mengutarakan takut tersinggung dan kecewa dengan saya.


Saya pikir untuk membayar kekesalan saya, lebih baik saya basmi ayam-ayam ini dengan cara membunuhnya dengan cara:


1. Membeli racun pembunuh ayam.

Kelar urusannya sebenarnya jika saya kasih racun kepada ayam-ayam itu biar cepat habis. Cuma saya pikir terlalu sadis cara saya melakukan itu. Saya bisa saja beli racun lalu teteskan sedikit lalu taruh di dalam nasi kemudian lemparkan ke ayam-ayam tersebut. Ayam-ayam itu pasti berebutan makannya, lalu tak lama kemudian ayamnya gugur. Itu yang terbersit dipikiran saya pada waktu itu. Tetapi saya teringat soal keamanan dan keselamatan saya dan orang-orang disekitar saya tentu lebih penting dari pada aksi pembunuhan. Ini yang mereview keputusan saya, sebab ini soal kemanusiaan. Kalau ayam-ayam itu biarkan mati. Namun kasihan orang yang kemungkinan akan mengolah ayam yang sudah keracun itu lalu dimakan. Takutnya ayam sama manusia bernasib naas. Saya tidak mau itu terjadi.


Saya urungkan lagi niat tersebut karena terlalu beresiko. Saya pikir, bisa saja dampaknya akan lebih besar yang terjadi dikemudian dari pada urusan taik ayam. Betapa malang jika sampai berat urusannya gara-gara urusan taik ayam atau bisa saja senjata makan tuan. Dapat masalah karena taik ayam, rasanya tidak elite amat. Namanya racun, saya tidak mengerti sama sekali barang yang satu ini. Pokoknya benda satu itu sangat asing bagi saya.


Akhirnya, saya putuskan untuk tidak lakukan itu karena dapat memicu dan  memperbesar masalah. Cara terbaik menurut saya. putuskan bicara langsung secara baik kepada pemiliknya. Hanya saja harus cari waktu yang tepat supaya bisa enak ngomonginnya.


Hari itu, sambil bercanda saya coba utarakan apa beban saya, saya katakan kepada dia yang kebetulan baru membeli sepasang sangkar burung: sudah, kamu fokus pelihara burung saja. Ayam tidak usah karena tahinya ada dimana-mana. Bau....
Dianya biasa saja merespon, mungkin dianggapnya candaan karena  saya menyampaikannya secara bersahabat dan tidak tegang.



2. Membunuh ayam dengan menyiapkan perangkap.


Saya ada pelihara kucing dirumah, kucingnya begitu cerewet. Saking cerewetnya, kita susah bedakan dia lagi lapar, ngantuk, ingin disayang atau mau keluar. Jadi tiap kali meong kita pikir itu sedang lapar. Lalu kita buatin nasinya, kasih ikan. Karena si catties ini tidak mau makan tanpa lauk. Eh,,, giliran dikasih, nasinya tidak dimakan. Akhirnya, nasi catties ini seringkali menjadi incaran binatang lain termasuklah si ayam tetangga itu. Pokoknya kalau bekas  kucing, pasti akan jadi sasaran ayam, anjing atau burung. Nah, sisa-sisa ini menjadi umpan bagi ayam itu berlomba-lomba masuk kerumah untuk memakannya.


Sebal bangat rasanya, baru balik badan sebentar, ayam-ayam itu seolah berposta pora menikmati sisa makanan kucing. Apalagi kita sedang istirahat atau makan siang. Tiba-tiba saja kedengaran bunyi patokan ayam. Platok...platok....platok


Apalagi saya lihat ayam itu sudah susun strategi, saya buru-buru ambil kayu atau sapu lalu saya bersembunyi di belakang pintu. Begitu ia masuk, saya biarkan dulu ia patoki nasi kucing tersebut. Sudah...  ayamnya menikmati patokannya, saat itu juga kayu atau sapu mendarat di tubuh ayam. Ayam akan menggelepar. Dengan satu pukulan ayam bisa menggelepar, ditambah satu dua pukulan lagi, ayam bisa mati.



3. Memotong ayam pakai pisau


Memangnya, ada yang rela ayamnya tiba-tiba dipotong? Pastinya tidak. Kecuali kita sudah buat perjanjian atau kesepakatan: kalau ayamnya masuk rumah atau sengaja merusak pekarangan rumah, atau membuang hazat di sekitar rumah saya, resiko ayam matang dikuali tidak dijamin๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚. Dilarang marah kalau tiba-tiba ayamnya hilang atau gimana dengan catatan : pastikan dulu ayam anda mati ditangan saya dan berada di kuali saya. Jika tidak terbukti barang bukti ada di kuali saya dilarang menuduh. Karena orang yang menuduh tanpa bukti dikategorikan dengan hoax atau berita bohong disertai pencemaran nama baik. Dan berita bohong serta pencemaran nama baik dapat dikenai pasal KUHPidana. Berlapis lagi.


Kalau kegeraman anda terhadap ayam yang mengganggu ketenangan dan ketentraman anda, dan anda ingin potong itu ayam maka harus permisi dulu, harus jelas dulu pasal-pasalnya dan harus disepakati. Karena kalau tiba-tiba anda potong ayam orang tanpa ijin dan  bisa tanpa kesepakan, anda disebutkan sebagai maling ayam. Dosa loe...
Ayamnya tidak seberapa dosa dan malunya yang berat.


Apapun masalahnya, apalagi dengan tetangga sebaiknya diutarakan baik-baik. Jangan lakukan sepihak karena amarah dan emosi. Saya rasa dengan ucapan yang sederhana atau keras juga tidak apa-apa kalau memang sulit di kasih pengertian mungkin cara keras ini, dapat memberikan pengertian yang dalam padanya. Sehingga besok-besok ayamnya yang punya ayam yang mengganggu tetangga segera dijual habis... Tidak dikasih pun sama saya tidak apa-apa yang penting ayam itu tidak berkeliaran lagi didepan rumah saya .
Cara Membunuh Ayam secara perlahan tapi pasti Cara Membunuh Ayam secara perlahan tapi pasti Reviewed by Risda Nababan on September 16, 2018 Rating: 5

11 comments:

  1. Apakah salah mematikan ayam tetangga yang masuk halaman, walau pemilik sudah ditegur berulang?
    Dan apakah ada dasar pembelaan terhadap tindakan tsb?

    ReplyDelete
  2. Apakah salah mematikan ayam tetangga yang masuk halaman, walau pemilik sudah ditegur berulang?
    Dan apakah ada dasar pembelaan terhadap tindakan tsb?

    ReplyDelete
  3. Sebaiknya, sebelum membunuh ayam itu kasih pernyataan sama pemiliknya. Kalau masih diabaikan tanggung resiko lah si pemilik. Kalau mati tidak tanggung jawab kita. Iya,... Jadi sama-sama enak gitu..

    ReplyDelete
  4. Cara nya bagaimana ..
    sudah panjang lebar cuma gitu saja
    .

    ReplyDelete
  5. saya mengalami hal yang sama enaknya diapain yah tuh ayam. lama lama kesel banget tiap hari dilempar pake batu, disiram, kucing dirumah suruh ngejar eh masih aja lewat depan rumah tai ayamnya di mana mana. lama - lama pengen banget ngelempar yang punya ayam.

    ReplyDelete
  6. Racun nya apa mana... Gajelas bgt

    ReplyDelete
  7. Saran sy, tulis surat aj pd tetanggany mgk dg bhs langsung bgitu dia kurg ngerti. Sklian kirimin dia rendang ayam, semur ayam dan ayam goreng crunchy gitu.. Dan jgn lupa blg bhw ayamny enak bgt.. Hhahhahhaa...

    ReplyDelete
  8. Jadi pengen ngeracun yg punya ayam

    ReplyDelete
  9. Sy mengalami hal yg sm dibdlm komplek ada tmh kosong di tempati tnpa ijin yg punya eeh miara ayam bnyk bnr tiap hari itu ayam2 pd berak ijik kumuh lingkungam kotor

    ReplyDelete
  10. sama, makanya gua nyari artikel ini, seolah pengen gua rasenggan tuh ayam

    ReplyDelete

Powered by Blogger.