8 Rahasia yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis


Mengajari anak berperilaku


8 Rahasia yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis - Pendidikan anak adalah tahapan yang penting dalam mengajarkan anak-anak sejak dini. Pendidikan ini dilakukan sejak anak dari usia 0-10 tahun. Tahapan ini disebut dalam usia balita dimana pada usia ini orang menyebutnya masa emas yang artinya masa-masa ini adalah masa krusial dimana peran orang tua sebagai guru yang baik bagi anak sangat dibutuhkan. 


Di usia inilah perjalanan anak dimulai dan otaknya yang belum terisi apa-apa seharusnya mulai dimasukkan berbagai input bernilai positif. Anak belum tahu apa-apa, oleh karena itu anak diusia ini banyak menanyakan banyak hal yang kadang membuat sebagian orang tua jengkel dengan pertanyaan yang dilontarkan anak sebagai balasan keingin-tahuannnya kepada sesuatu. Sayanagn, tak jarang orang tua yang membentak anak sebagai balasan dari banyaknya pertanyaan yang dilontarkan dalam waktu yang bersamaan.


Memang mereka tidak tahu apa-apa. Dan dalam ketidaktahuan itu anak berusaha ingin tahu, itu sebabnya harusnya orang tua memasukkan pengajaran yang baik seperti kata-kata yang baik, norma-norma yang baik disamping anak diajarkan huruf-huruf dan menulis, karena inilah tahapan emas bagi anak. Anak-anak sangat mudah menangkap sesuatu dari apa yang mereka lihat atau dengar, sayangnya belum bisa mencerna setiap input yang masuk kedalam otaknya. Semua ditelan tanpa mengunyah layaknya suapan bubur dari seorang ibu. Berbeda dengan anak yang sudah duduk di bangku SMP atau SMA, sedikit banyak sudah mulai bisa mencerna atau menyaring input dalam pikirannya.


Dibawah ini, 8 rahasia  yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis. Mungkin bagi sebagian orang pengajaran ini sangat sederhana, namun sangat besar pengaruhnya setelah ia menjadi remaja bahkan dewasa. Oleh karena itu para orang tua jangan sampai melewatkan waktu berharga ini untuk mengajarkannya kepada anak:


1. Ajarkan anak sejak dini untuk selalu berterimakasih untuk hal apapun.

anak yang Berterimaksih


Anak-anak tidak tahu apa yang akan diucapkan saat menerima sesuatu dari orang lain. Anak akan hanya menerima saja apa yang diberikan orang lain kepadanya, tanpa bicara apa-apa, karena kelasnya memang masih dilevel itu. Orang tua sebagai pendamping anak, akan mewakili anak mengucapkan terimakasih  ketika anak bahkan belum bisa berbicara. Kebiasaan ini akan ditiru anak ketika suatu waktu ia sudah bisa mengucapkan kata perkata. Orang tua biasa mengucapkan terima kasih saat datang pujian kepada anak atau saat menerima kado atau sesuatu dari orang lain. 

Orang tua harus giat memcontohkan kata-kata terimakasih dalam pemberian apapun, bahkan yang kelihatan terkecil atau bahkan yang tidak kamu inginkan sekalipun. Awali mengucapkan terimakasih. Jangan selalu berpikir untukmu tetapi itu untuk anakmu, bahwa tujuan sebenarnya itu untuk mengajarkan anak kebiasan baik. 

Kalau ucapan terima kasih tidak diajarkan pada anak dari hal yang paling kecil sejak dini, maka nanti setelah besar maka ia akan menjadi anak yang menggerutu dan tidak bisa menghargai pemberian orang lain.


2. Ajarkan anak bicara kejujuran.

Anak yang jujur


(Terkadang) disatu sisi orang tua akan marah pada anak saat anak tidak bicara jujur, tetapi disisi lain orang tua juga sering tidak jujur pada anak. 
Contoh: Suatu waktu ketika anak sedang memainkan barang-barang orang tuanya, dan barang-barang tersebut berpindah tempat, yang entah anak taruh dimana?. Ketika orang tua bertanya siapa yang telah memainkan barang tadi?, Anak yang merasa ketakutan berusaha menghindar lalu berbohong.  Anak Tahu ia salah, tetapi ia berusaha menghindar dari kemarahan ibunya.


Secara tidak langsung ibunya mengajarkan untuk tidak berbohong. Sebenarnya dalam konteks ini anak berusaha jujur, berhubung takut kena marah, anakpun memilih berbohong. Kemudian  disisi lain ada orang tua entah tanpa sadar atau tidak, karena orang tua tidak ingin anaknya main jauh-jauh, lalu berkata: Awas jangan kesitu, disitu banyak hantunya. Memang, saat itu anak tidak tahu apakah orang tua sedang membohongi dia  atau tidak karena masih polos. Ia ikut saja apa yang dikatakan ibunya. Setelah mulai besar baru tahu, bahwa ia sudah dibohongi. 


Dalam hal ini tanpa disadari, sebenarnya orang tua sedang menaburkan bibit kebohongan pada anak. Suatu saat orang tua menyalahkan anak jika suatu waktu anak membohongi dia lalu berkata: Siapa yang mengajari kamu berbohong?
Emang setan yang datang mengajari dia berbohong?
Iya, tidak dong!
Kamulah orang tua yang tanpa sadar membohonginya dan menarik masuk kepada diri anak.
Kita para orang tua yang berperan untuk mengajarkan anak-anak untuk selalu jujur dan dimulai dari perkataan kita yang jujur. Bila bunda tidak mengijinkan dia bermain ketempat yang jauh-jauh, berikan alasan yang benar kenapa tidak boleh main jauh-jauh.
Cukup

Ajarkan anak untuk bisa berkata jujur baik dalam hal menilai sebuah objek atau dalam situasi. Ajarkan anak untuk berkata "tidak" terhadap yang salah atau "ya" jika benar karena ini akan membangun karakter anak yang berprinsip dalam membuat keputusan.



3. Ajarkan Anak kepedulian.

Anak yang peduli

Anak jaman sekarang adalah anak yang sangat sibuk, layaknya orang dewasa yang memiliki banyak rutinitas. Padahal anak-anak ini masih lucu-lucunya bermain, belajar mengeja dan menulis. Medianya pun kadang masih disembarang tempat dan kadang sesukanya coret-coret didinding yang kebetulan ketemu dengan lipstik bundanya. Belum tahu tanggungjwab menjaga kebersihan dan bekerja. Anak yang sudah punya kelas, mereka dituntut hanya untuk belajar mempersiapkan masa depan saja. Disamping itu, orang tua harus ajarkan anak-anak untuk bersosialiasi, walau dengan usia mereka yang masih kecil tetapi itu dapat membangun kepedulian dan juga membantu meningkatkan motorik anak.


Anak yang belum bisa berjalan perlu dibawa keluar berbaur dengan masyarakat lain, karena ketika sesama anak bermain bersama, disitu anak belajar untuk saling memberi dan menerima meskipun hanya berupa mainan saja. Tidak baik bagi anak bila dibiarkan terus-menerus bermain sendirian. Perlu orang lain untuk membangun dan meningkatkan kualitas hubungan dengan anak-anak lain seusianya. Dan itu jika anak tidak hanya sendirian dirumah sibuk dengan mainannya. Bagaimana anak akan melihat dan memahami kebutuhan orang lain jika ia tidak terbiasa dengan teman nyata? Anak perlu berbaur dengan seusianya bahkan diatas usianya. Ajarkan anak untuk saling membutuhkan, tanpa pengajaran ini ia akan menjadi anak yang egois yang hanya sibuk dengan diri sendiri.


4. Ajarkan anak menghormati orang lain.

Anak yang menghormati orang lain

Menghormati orang lain, dimulai dari menghormati orang terdekat dengan memperkenalkan anggota keluarga, mulai dari anak, bapak, ibu, abang, kakak, adek, nenek, kakek dan lain sebagainya.
Terkadang timbul greget dengan anak yang kalau memanggil seseorang, kau, kau, kau...
Ya, ampun anak kecil kok tidak ada adatnya.
Kan begitu kalau dimasyarakat berkomentar. Pasti dibilang tidak beradat, ibumu tidak mengajari sopan santun ya?
Kalau saya bertanya: Siapa yang mengajari, bundamu ya?
Jadi, sasaran empuknya, pasti bundanya.


Anak harus diberitahu panggilan untuk setiap orang dan dimulai dengan yang sering menjalin interaksi dengannya, mulai dari yang tertua sampai yang termuda. Bila anak mencoba memanggil dengan nama apalagi yang lebih tua darinya, orang tua harus buru-buru mengkoreksi dan memberitahu yang benar dan semestinya, sehingga setelah remaja dan dewasa anak terbiasa dengan berperilaku sopan bertata krama terhadap setiap orang. 


5. Ajarkan anak tanggung jawab


Anak yang bertanggungjawab


Hal-hal besar dimulai dari hal-hal kecil, itu metologi yang terbiasa terdengar ditelinga, dan ini berlaku dengan tanggung jawab. Seringkali orang tua terlalu memanjakan anak saking sayangnya terhadap anak.
Apa-apa selalu dituruti, dibela.
Dimarah tetangga, dibela... meski sudah melempari rumah tetangga...
Dimarahin guru, bundanya datangin kepala sekolah, berkoar-koar sampai sekecamatan tahu... Meski sudah melawan guru atau tidak mengerjakan tugas sekolah
Diminta ini, itu dikasih... meski tahu membahayakan anak.


Orang tua tidak berani berlaku tegas kepada anak, padahal ada baiknya kalau anak salah dimarahi. Tujuannya supaya anak tahu tanggungjawabnya, sebagai anak didik, sebagai anggota masyarakat, dan sebagai anak. Jika anak salah bukan berarti tidak boleh dimarah. Silahkan dimarahi, karena setiap tindakan akan ada konsekwensi, baik konsekwensi baik maupun buruk, dengan begitu anak tahu kesalahannya dan mengajarkannya bagaimana menjadi anak yang bertanggung jawab dan disiplin. Bila ada orang tua tidak terima jika anaknya dimarahi meski dalam batas yang wajar  itu sama saja orang tua sedang membangun generasi yang tidak bertanggungjawab.


Boleh dibela kalau tidak bersalah, atau hukuman melebihi dari kesalahan. Boleh dikasih, dituruti apa yang diminta anak bila masih batas untuk kebaikannya, tetapi jika untuk membantu menjerumuskan anak, lebih baik tunda dulu sampai ia sudah saatnya untuk menerima dan memiliki semua yang dia perlukan.

Waktu kecil, masih SD dulu, saya pernah dimarahi guru, alasannya: karena datang terlambat, tidak mengerjakan tugas atau karena berantam sama teman sekelas.
Saya tidak lantas mengadu kepada orang tua, karena pasti saya akan kena marah lagi, karena saya yang buat kesalahan. Sebaliknya saya akan kasih tahu kepada orang tua saya ketika guru menghukum saya keras. Orang tua tentu melindungi anaknya dari kekejaman penghapus papan tulis yang mendarat diatas kepala atau diujung kuku. Karena untuk mendidik tanggungjawab tidak harus menghancurkan psikis anak dan menciderai tubuh anak. Mendidik harus dengan kasih  kepada perubahan bukan dengan kebencian.


"Rotan baik untuk mendidik anak, supaya ia menjadi manusia yang baik. Lebih baik anak anda sakit sebentar hari ini dari pada ia menjadi anak yang tidak bertanggungjawab dan tidak berguna"


6. Ajarkan anak takut akan TUHAN

Anak yang cinta Tuhan

Warisan orang tua kepada keturanannya yang terbaik bukan uang, jabatan, atau harta duniawinya. Warisan dan harta terbaik yang harus orang tua tinggalkan buat anak adalah roh takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan akan menuntun anak kepada jalan yang benar. Tahukan bagaimana dituntun oleh Tuhan?


Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Hikmat menyeimbangkan hidup anak setelah dewasa. Apabila fokus yang dikejar uang sebanyak mungkin tetapi mengabaikan harta yang sesungguhnya, orang tua seperti ini adalah orang tua yang malang. Uang bukan selamanya teman yang cukup baik untuk mendampingi perjalanan hidup anak. Suatu saat anak bisa bermasalah dengan uang, dan uang tidak dapat membantunya menyelesaikan masalahnya. Percayalah bahwa orang tua semacam ini sedang mengajarkan anak ketamakan. 


Takut akan Tuhan sama dengan filter penyaring kotoran yang masuk kedalam pikiran anak. Ketika ingat Tuhan, ia ingat akan dosa dan hukumannya. Sehingga akan menghentikan langkahnya untuk terjun kejurang kejahatan. Takut Tuhan juga yang membuat anak eneg dengan perilaku para koruptor dan membenci kejahatan. Barangkali ada orang tua yang tidak tahu apa akar dibalik maraknya pencuri dinegeri ini. Artikel ini beritahu, bahwa penyebabnya salah satunya selain kemiskinan adalah karena orang tua lalai mengajari anak beribadah yang benar karena selalu sibuk mengumpulkan harta duniawi dan melupakan ajaran sehat yang dimulai dari ajaran Roh takut akan Tuhan. Berapa banyak orang yang secara keuangan tergolong mapan tetapi selalu merasa miskin (bermental miskin). Yang terjadi, muncullah penjahat berjamaah yang mata rantainya saling mengikat untuk mengeruk harta orang lain.

Saya tidak anti dengan kekayaan, tetapi jika kekayaan tujuan para orang tua dalam membesarkan anak, mereka sedang membangun sebuah pemikiran bahwa uanglah solusi atas semua masalah.

Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat. Hikmat membuat orang menjadi pintar dan cerdas yang memudahkan orang yang takut kepadanya menyelesaikan masalahnya. Hikmat mengajarkan hidup benar, bersih, peduli, bertanggung jawab dan yang sebetulnya hikmat dapat mencover apapun yang diperlukan manusia.


7.Ajarkan Anak mencintai sesama.


Anak yang cinta sesama


Sesama adalah orang yang naturenya sama dengan kita. apa sih nature manusia? Manusia naturenya saling membutuhkan - mengasihi dan dikasihi. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial yang sama saling membutuhkan yang berperan dalam mendukung dan melengkapi satu sama lain. Manusia itu berdosa dan tidak sempurna dalam banyak hal, manusia itu berbeda dalam prinsip. Berita baiknya justru oleh perbedaan itu manusia saling melengkapi bukan saling membenci apalagi untuk memunahkan. Terlalu disayangkan apabila anak dalam kelucuannya dijejali oleh doktrin yang bertentangan dengan akal sehat yang justru menciderai kerukunan.

Terlalu banyak ajaran entah dari mana didapatkan polanya yang bertentangan dengan kemanusiaan yang sudah diterapkan dilingkungan pendidikan, dan entah ijin siapa, apakah atas ijin Tuhan? Saya tidak yakin itu ijin Tuhan. Ajaran cinta kasih sesama dihilangkan, demi membesarkan ajaran kebencian disebar luaskan. Orang tua tidak bisa tutup mata akan hal in. Periksa input yang masuk keotak anak dan pendidikan anak sehingga tidak sampai terkontaminasi dengan pengajaran yang demikian. Peran orang tua sangat dibutuhkan untuk membendung perilaku buruk dan dengan adanya ajaran untuk saling mencintai sesama yang bersumber dari orang tua maka anak tumbuh besarnya akan melihat sesama adalah teman yang menguntungkan.


Ajarkan anak untuk bisa mencintai sesamanya "banyak teman, banyak rezeki" meskipun dalam perbedaan. Hanya dalam perbedaanlah maka dapat terlihat keindahan dan warna-warni kehidupan. Tak ada bedanya dengan makanan yang anak konsumsi sehari-hari, semakin banyak jenisnya semakin komplit pula gizinya dan semakin sehat tumbuhnya


8. Perkenalkan anak dengan bangsanya

Anak yang cinta bangsa

Anak harus tahu dari sejak kecil siapa dia dan jati dirinya. Apa yang sudah diberikan bangsa kepadanya. Memang anak-anak belum memahami apa itu sebuah bangsa beserta cakupannya. Tetapi orang tua bisa menjelaskan dan memperkenalkan bangsanya melalui simbol-simbol bangsa atau pernak-pernik negara, misalnya: bendera negara, lagu kebangsaan, lambang negara atau cerita-cerita rakyat atau juga bahasanya. Semakin anak dekat dengan simbol-simbol bangsanya tersebut maka anak semakin cinta negaranya.


Tidah heran, orang tua yang berjiwa nasionalis, selalu memperkenalkan budaya leluhurnya kepada anak-anaknya. Sederhananya, bisa dilihat dari cara berpakaian, bahasa sehari-sehari yang digunakan atau memperkenalkan silsilah nenek moyangnya. Kan aneh, ibunya asli orang Jawa - Indonesia tapi diajarkan budaya Timur Tengah.
Maksudnya apa?
Bukankah itu melecehkan bangsa sendiri?. Bayangkan bagaimana caranya anak bisa mencintai bangsanya, sedangkan sehari-hari dilingkungan keluarga yang ditonjolkan budaya bangsa asing.


Perlindungan minta dari bangsanya sendiri, tetapi yang dijunjung dikehidupan sehari-hari adalah bangsa asing.
Sambil ngomel-ngomel dirumah, lalu anaknya bertanya; ada apa bunda?
Ini loh nak pemerintah kita tidak becus mengurus negara. siapa itu negara?
Presiden nak... ooo sambil berlalu bawa mainannya.

8 Rahasia yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis 8 Rahasia  yang harus diajarkan pada anak kecil selain belajar membaca dan menulis Reviewed by Risda Nababan on September 20, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.