Salahkah Kamu Berpacaran? Baca Dulu Ini : Cara Berpacaran Yang Sehat


tidak ada setan dalam pacaran, kamulah setannya jika sampai melakukan larangan dalam perpacaran

Salahkan jika berpacaran? - Tidak ada yang salah dengan kata berpacaran asalkan tetap berada dijalur yang benar. Berpacaran tidaklah dosa, menjadi dosa ketika oknum yang terlibat dalam pacaran itu melakukan dosa, baru disebut dosa. selama masa berpacaran yang dilakukan hanya kencan biasa, ngobrol dalam porsi yang wajar, makan bersama, tidak pegang sana pegang sini, tidak melakukan tindakan yang melangar norma agama, adat-istiadat dan budaya setempat tidak serta merta dianggap berpacaran salah. Bila pacaran dipersepsikan dengan benar lalu dimana letak kesalahannya? Bila saja berpacaran tidak boleh dan dosa lalu persentasi yang bersalah dan berdosa karena berpacaran jauh lebih besar dari yang tidak berdosa.

Kesalahan akibat beberapa oknum yang menciderai kata berpacaran lalu men-generalisir setiap orang yang berpacaran itu salah, dapat dipahami karena sulitnya menemukan pacaran yang benar-benar bisa menjaga diri dari hawa nafsu. Kesalahan berpacaran yang sering dijumpai disekitar kita jumlahnya semakin besar, dan hal itu tentu dapat mempengaruhi lingkungan termasuk anak-anak dibawah umur dan anak yang masih dalam pengawasan orang tua. Akibatnya Anak-anak dibawah umur bisa terkontaminasi dengan pemandangan gila itu, anak-anak dikarbit dan matang sebelum waktunya, ini pacaran yang membahayakan dan merusak moral anak-anak bangsa. Meski demikian masih banyak orang pacaran yang tetap menjaga kesuciannya sampai pada akhirnya mereka menikah. Berpacaran adalah masa pengenalan calon pasangan sebelum menikah. Berpacaran yang sehat adalah sebuah wadah untuk mengenali calon pasangan dengan baik sebelum melanjutkan kehubungan pernikahan.


Pentingkah mengenali sifat calon pasangan.


Pentingkah mengenali sifat calon pasangan.


Sebelum mengambil keputusan penting yang menyangkut masa depan bersama pasangan perlu dilakukan pengenalan sebaik mungkin.
Contoh : Emak-emak aja yang mau beli ikan, diperiksa dulu ikannya bagus apa tidak, insangnya masih merah atau tidak, matanya masih segar atau sudah buram, masih kejal atau sudah lembek. Tidak ada yang asal comot lalu membawanya pulang, yang penting ikan. Diperiksa dulu kualitas ikannya layak atau tidak dimakan, jangan-jangan yang dibeli ikan busuk yang kucing saja ga mau nyentuh. Sekalipun ikan yang dibeli, hari ini dimakan besok udah masuk kejamban, tetap diperhatikan kualitas ikannya. Itu hanya yang hitungan hari, lalu bagaimana dengan pasangan hidup yang hitungannya seumur hidup, apakah akan lolos seleksi?

Mengenali seseorang tidak cukup dengan hitungan jam maupun hari, memilih pegawai saja butuh beberapa kali test, meski dianggap layak sebagai pegawai masih tetap saja ada yang gagal.

Menikah dengan pacaran saja masih saja banyak yang gagal membangun rumah tangga, tetapi bukan berarti dengan alasan itu serta merta mengatakan berpacaran itu salah dan dosa, menikah tanpa pacaran juga banyak yang langgeng, tetapi ada juga yang hancur. Lalu apakah orang yang tidak pacaran bebas dari perbuatan zinah? siapa yang bisa jamin. Bukan pacaran ukuran dosa atau tidak dosa, langgeng atau tidak langgeng karena keawetan rumah tangga bisa. Ukuran berdosa atau tidak berdosa tergantung hati dan pikiran seseorang bagaimana ia mengendalikan seluruh hidupnya dan langgeng tidaknya rumah tangga dicapai dari komitmen pasangan.


Salahkah kamu pacaran?



Apakah tidakboleh jatuh cinta?

Salah atau tidak itu balik ke diri masing-masing, seberapa kuat kamu bisa menjaga kesucian, seberapa serius mentaati rambu-rambu pacaran dan seberapa kuat melawan hawa nafsumu. Yang membuat pacaran jadi noda adalah mereka yang memandang pacaran sebagai sarana melampiaskan hawa nafsu dan tidak bisa menjaga kesuciannya. Jika kira-kira sudah tidak tahan dengan godaan lebih baik menikah saja untuk menghindari dosa. Sebelum berpacaran, dimiliki dulu prinsip sebagai ring untuk membatasi diri dari tindakan tidak bermoral. Ada cara-cara untuk menghidari perbuatan tidak bermoral ketika pacaran, dari cara cara itu bisa dijadikan batasan-batasan saat pacaran. apabila terjadi pelanggaran maka akan terjadi kecelakan.


Pengguna jalan raya bisa dijadikan gambaran ketika berpacaran. Jalan raya merupakan wadah bagi pengendara dan pejalan kaki. Siapa saja bisa melewati jalan tersebut, tidak ada yang melarang. Yang dilarang dan yang dikenakan sanksi adalah yang menggunakan jalan tanpa mengikuti rambu-rambu dan melanggar peraturan lalu lintas karena dapat membahayakan dirinya sendiri dan pengguna lain. Ketika terjadi pelanggaran dan terjadi kecelakaan yang dipersalahkan bukan jalan raya toh?, karena jalan itu tidak salah, yang salah tentu pengguna jalan sehingga terjadi kecelakaan. Apa korban akan berkata "karena jalan ini ada maka saya menjadi korban kecelakaan? Lha salah jalan rayanya dimana? Jalan hanya wadah bagi pengguna bukan pembuat kecelakaan.


Ibarat, pacaran itu jalan menuju pernikahan. Pacaran merupakan wadah sebelum memulai hidup baru bersama pasangannya. Saat pacaran inilah mulai dilakukan penjajakan tentang diri calon, apakah selama berpacaran terdapat kecocokan, jika iya apakah sudah siap dibawa kejenjang pernikahan. Disaat pacaran inilah semua yang terkait dengan perjalanan pernikahan terkonfirmasi. Bahkan pernikahan yang dihasilkan dari perjodohan oleh orang tua atau keluarga sekalipun tetap perlu mengenal sifat calon pasangan tersebut yaitu melalui pacaran meskipun yang dipakai bukan "bahasa" pacaran.


Orang tua bisa saja tertarik dengan sifat yang ditunjukkan calon mantunya sehingga tertarik membuat perjodohan, tetapi disamping itu lebih dari pada itu pasangan harus lebih mengenal calonnya bukan hanya dari kulit luarnya saja namun lebih penting adalah isinya.



Untuk memastikan tidak terjadi kecelakan saat pacaran, ada rambu-rambu pacaran yang mengatur lalu lintas pacaran, rambu-rambu pacaran harus diperhatikan dan dijalankan dengan baik supaya tidak terjadi kecelakaan saat menjalani masa pacarannya. Mungkin sebagian ada yang berpikiran, karena melihat cara berpacaran dibenua lain yang agak vulgar, sehingga beranggapan pacaran itu diidentikkan semua benua sama.


Pacaran juga dipengaruhi oleh budaya, bagi budaya timur rambu-rambu berpacaran beda dengan budaya luar. Budaya timur masih dipengaruhi adat istiadat setempat, agama yang dianutnya, yang tentu lebih memperketat gerak pacaran yang tentu lebih bermartabat. Bila budaya ini dipelihara dengan baik rambu-rambu berpacaran ini cukup untuk menjaga kesucian berpacaran.

Sekarang ini banyak budaya yang diserap dari luar yang mempengaruhi gaya berpacaran. Sebagian serapan ini lah yang mengoyak dan mencabik - cabik budaya lokal yang seyogiyanya sangatlah beradat dan bermartabat. Pada kenyataannya kecelakaan bukan pada pacarannya, tetapi kesalahan yang dilakukan oleh sepihak atau kedua belah pihak.


Itulah penjelasan saya tentang salahkah kamu berpacaran? Setiap orang memiliki prinsip dan pandangannya masing-masing tentang salahkah kamu berpacaran. Perbedaan pendapat adalah hal biasa selagi tidak merugikan orang lain. pendapat saya ini mungkin saja salah dan mungkin juga benar, apapun penilaian pembaca, blog ini tidak memaksakan kehendak untuk selalu sepaham dengan isi dari artikel ini. Bila ada masukan yang membangun silahkan berkomentar yang sopan dibawah ini. 




Salahkah Kamu Berpacaran? Baca Dulu Ini : Cara Berpacaran Yang Sehat Salahkah Kamu Berpacaran? Baca Dulu Ini : Cara Berpacaran Yang Sehat Reviewed by Risda Nababan on March 18, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.