Salah Pilih Dokter, Berujung Fatal

Tidak banyak yang menyadari bahwa ketika seseorang membutuhkan perawatan atas masalah kesehatannya atau kandungannya tidak selalu memperhatikan dokter yang menangani kesehatannya.  Kita pergi ke sebuah klinik atau tempat praktek menemui dokter yang ada disana tanpa mencari tahu terlebih dahulu rekam jejak tenaga medis yang akan menangani kita. 

Kondisi janin masih baik
Kondisi janin masih baik

Bagi sebagian dari kita berpikir bahwa semua dokter itu sama dalam menangani pasiennya. Ternyata tidak semua dokter yang telah mendapat gelar dokter bisa menangani pasien secara baik dan benar bahkan yang sudah spesialis sekalipun. Bisa saja seorang dokter sudah cukup lama menyandang gelar dokter tapi tidak cukup pengalaman dalam menangani sebuah kasus.


Awalnya saya juga sama seperti sebagian teman pembaca, yang memandang jika sudah memangku gelar jabatan sebagai dokter spesialis maka untuk sebuah masalah kesehatan dibagian itu, maka penanganannya sama, karena berpikir sama sama spesialis, ternyata tidak. 


Jauh dari kenyataan, sesuai pangalaman saya ternyata anggapan itu adalah salah besar. Tidak semua jabatan yang dipangkunya dikerjakan secara proporsional dan profesional. Untuk pengetahuan dan pengalaman ini saya yang sudah mengalaminya.  


Karena kepercayaan saya bahwa semua dokter spesialis itu sama dalam menjalankan prakteknya menangani pasien, saya pada saat itu harus bertahan kepada salah satu dokter. Ternyata saya salah besar.  Saya telah memilih jalan yang salah yang bagi saya memilih dokter kandungan (spog) yang salah bagi kehamilan saya. Harapan saya mengunjungi dokter spesialis kandungan tersebut agar bisa membantu menyelamatkan janin dalam kandungan saya yang awalnya hanya berupa flek. Karena tidak tertangani dengan baik ternyata harus berakhir keguguran karena penanganan yang tidak maksimal terhadap pasien. Sangat disayangkan seorang dokter spesialis yang tidak bisa mengatasi masalah pasien yang pada saat itu tidaklah merupakan kondisi gawat darurat. 


Jadi timbul pemikiran setelah kejadiaan itu: apakah memang dokter tersebut menginginkan kematian bagi janin saya yang tidak berdosa yang baru berusia 2 bulan? Ah... Semoga saja dugaan saya salah. Sebelumnnya saya menanyakan; apakah flek ini berbahaya? Sang dokter menjawab dengan tegas: o sangat berbahaya!  Klo berbahaya kenapa tidak dirawat saja atau kalau tidak tersedia kamar kenapa tidak dirujuk kerumah sakit saja sehingga penanganannya lebih intensif? Malahan  yang dikasih hanya kapsul penguat janin dan surat buat istrahat dirumah????  Kita yang awam tidak mengerti cara penanganan flek pada kandungan,  dan harusnya disinilah peran orang pintar seperti dokter menyelamatkan pasien. 


Saya mengatakan hal tersebut karena saya punya alasan yang kuat. Bagaimana tidak, 2 kali saya mendatangi klinik tempat dokter Spog itu praktek dan jaraknya hanya 1 minggu  tetapi saya hanya disuruh makan obat penguat kandungan berupa kapsul yang saya beli ketika saya datang kunjungan pertama kali.  Dan kunjungan kedua kali masih tetap disarankan pakai obat yang sama yang disuruh dimasukkan lewat v***na tanpa ada tindakan perawatan. 


Padahal pada saat kunjungan pertama saya tanya dokter: Dok,  apa saya perlu bedrest? Karena saya sangat was was terhadap janin yang saya kandung, maklum anak pertama saya setelah menunggu selama 6 tahun. Jawaban dokter: gak usah, jangan kerja berat, jangan nyuci,  jangan nyapu nyapu. Dan Saya sanggupi saran dokter tersebut. 

Keesokan harinya flek itu masih saja keluar. Sesuai saran dari dokter tadi jika masih flek dosis obat dinaikkan dari 1kali sehari jadi 2kali sehari. Kita hubungi dokternya,  kita sms tidak dibalas,  kita telpon awalnya tidak diangkat.  Nih dokter gimana sih?  Pagi pagi kita ulang telpon akhirnya dijawab. Saya bilang sama dokternya: masih flek dokter, gimana ini? Dokter menjawab :Makan obatnya 2 kali sehari pagi dan malam. Kita ikuti saran dokter tapi tidak memberi hasil. Kunjungan kedua kedokter yang sama hasilnya tetap sama tidak juga berhenti fleknya malah obat disuruh masukin lewat v***na. Saya masih berpikir dia dokter spog yang baik bagi kehamilan saya, ternyata saya sudah salah memilih dan salah menduga. 


Satu minggu flek tanpa ada saran perawatan dari dokter ini, akhirnya dengan inisiatif sendiri, kami memutuskan untuk dirawat saja di RS dan tgl 27 Januari 2018 masuk IGD RK CH***TAS. 

Pengalaman pertama masuk kamar perawatan Rumah Sakit. 

Berbeda dengan dokter spesialis kandungan sebelumnya yang ada di sebuah Klinik tersebut. Di RS ini terbilang sangat cepat tanggap, tim medis berlaku sangat ramah, care dan profesional menjalankan tanggung jawabnya sebagai tenaga medis. Masuk Ruang IGD, dan setelah menyelesaikan Registrasi,  perawat langsung melakukan tindakan medis  mulai dari pasang infus, pemberian obat,  cek darah,  cek tensi  sampai masuk kamar perawatan semuanya  dilakukan begitu cepat. Masuk IGD sekitar Pukul 8 saya tidak tahu persisnya,  karena dipikiran saya bukan lagi tentang jam tetapi bagaimana bayiku dapat selamat dan dan dipikiranku apakah janinku masih ada?


Sekitar pukul 23.00 Dokter kandungan yang kutunggu tunggu akhirnya datang, dengan alat USG yang ala kadarnya. Dokter Rumah Sakit tersebut segera memeriksa kandungan saya. Berhubung masuk IGD pas hari sabtu, jadi semua ruang praktek dokter sudah tutup, jadi USG seadanya saja,  oke itu tidak apa apa. Saya dirawat, ditangani dengan baik dan Dokternya aja datang itu buat saya cukup puas.


Sisa jaringan janin setelah keguguran
Sisa janin setelah pendarahan



Malam itu janin saya di USG masih ada, tetapi kabar buruknya janinnya sudah turun sangat jauh dari tempatnya semula. Melihat hasil USG janin sudah tidak normal, saya kaget,  sedih, pilu campur jadi satu. Tetapi saya masih berharap janinku bisa kembali normal dan akan tetap kuat dan baik baik saja. Dokter yang baik itu masih memberi harapan pada saya, dan Saya diminta harus dirawat selama 3 hari untuk mengetahui perkembangan Janinku.


Selama masa perawatan, pendarahan tidak juga berhenti, setiap hari saya harus melaporkan kepada perawat kondisi pendarahan saya saat mereka mengunjungi saya. Laporan inilah yang diobservasi oleh dokter untuk melakukan tindakan selanjutnya. 


Setelah 3 hari diobservasi Di RS, dokter meminta kami masuk ruang praktek untuk dilakukan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) 4D (empat dimensi)  untuk melihat detak jantung bayi. Saya yakin dari hasil observasi selama dirawat,  dokter pasti sudah tahu endingnya seperti apa,  tetapi dokternya tidak mau mengatakan langsung pada pasien kala itu,  mungkin dokter sangat peduli dengan perasaan pasien.  Dokter tersebut sangat menjaga estetika dalam menyampaikan informasi kepada pasien meskipun hasilnya sudah tentu sudah bisa di pastikan,  namun dokter yang baik tahu waktu yang tepat untuk menunjukkan hasilnya,  apalagi pasien yang modelnya seperti saya.


Selama dirawat  di Rumah Sakit inilah saya bisa melihat bedanya dokter yang memang peduli terhadap keselamatan pasien, cara penanganan yang baik terhadap pasien,  padahal sama sama menyandang dokter spesialis kandungan.  Dari situ saya dapat menilai : wajar kalau dokter ini ramai pasien (dokter yang merawat saya)  dan dokter itu sepi. 

Diruang USG janin saya di USG, tetapi malang selama pendarahan jaringan janin saya turut keluar sedikit demi sedikit, dan akhirnya tinggal sisa ketika USG. Bayiku.... Anakku... Sudah tiada. Saat itu tangis saya pecah di ruang praktek dokter tersebut. Semua sudah terlambat,  karena dokter pertama yang diklinik tidak melakukan tindakan apapun sejak pertama kandunganku mengalami flek, dia hanya terpaku dengan obat penguat.  Dokter itu membiarkan kematian pada anakku yang tidak berdosa melalui tindakan pembiaran tanpa saran rujukan untuk dirawat. Padahal dirawat itulah yang sebenarnya yang bayiku butuhkan.


Baca juga Kuretase tindakan melahirkan bayi tidak normal



  • Inilah akibat saya salah memilih dokter untuk anakku dan janinku. Aku berharap semua yang membaca tulisan ini terlebih dahulu mengenali dan cari referensi sebelum memutuskan untuk memilih dokter kandungan sebagai dokter yang merawat kita. Jangan karena dekat dengan tinggal kita sehingga kita tetap mempercayakan padahal tidak teruji kompetensinya dalam mengobati dan menangani pasien. Cari tahu tentang dokter yang bagus dan peduli terhadap kandungan kita, karena anak kita adalah masa depan kita, anak kita adalah masa depan kita.


Saran dari pengalaman:

Bila bunda bunda mengalami flek atau pendarahan saat kehamilan,  segeralah bawa kerumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut dan intensif demi keselamatan bayi kita. 
Salah Pilih Dokter, Berujung Fatal Salah Pilih Dokter, Berujung Fatal Reviewed by Risda Nababan on February 03, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.