Kuretase Tindakan Melahirkan Bayi yang tidak Normal.


Membersihkan janin yang sudah mati dalam kandungan

Waktu berlalu begitu cepat, tidak ada yang menduga kemarin kita berada di sini, besok ada di sana.  Hari ini hidup kita normal normal dan sehat sehat saja besok di meja operasi. Begitu cepatnya waktu bergulir sampai terkadang kita tidak sempat diberi ruang, waktu dan tempat untuk berpikir dan memilih. Lebih cepat dari lembingan anak panah yang dilepaskan oleh pemanah. Kita tidak tahu Tuhan membawa kita kemana. 


Dengan tidak terduga saya mengalami banyak proses dalam waktu singkat. Satu bulan sebelumnya saya baru dapat kejutan bahagia dari hasil testpack yang menunjukkan bahwa saya dinyatakan positif hamil. Selama enam tahun saya bergumul menantikan hasil testpack dua garis merah tersebut, tepat pada tanggal 20 Desember 2017 akhirnya hasil yang dinanti nantikan si garis dua merahpun nyata. Terpancar binar binar kebahagiaan diwajah kami yang selama enam tahun belum pernah dirasakan dan belum pernah terjadi sebelumnya...  Puji Tuhan...akhirnya Tuhan ingat aku (sambil berguman dalam hati)


Baca juga Salah Pilih Dokter berujung pada Keguguran


Dengan penuh ucapan syukur saya katakan kepada Tuhan,  terimakasih Tuhan Engkau mengingat aku dan mengangkat aibku. Karena bagaimanapun orang yang menikah apabila tidak pernah mengalami kehamilan dan tidak mendapatkan keturunan akan dianggap sebagai aib keluarga, akan menjadi omongan empuk dimasyarakat.  Bukan hanya itu saja, orang yang tidak pernah hamil tentu akan menjadi beban hidup,  karena akan dipenuhi perasaan minder. Hatiku meluap luap tahu saya positif hamil dan saya begitu berhati hati menjaga janin dalam kandungan saya. 

Testpack cara pertama mengetahui kehamilan

Kebahagiaan itu baru dimulai pertengahan bulan Desember 2017. Banyak hal yang sudah dipikirkan tentang bayi yang kala itu baru berusia 1 bulan dihitung berdasarkan HPHT. Memang terkadang usai kandungan berbeda antara hitungan dokter dengan hitungan kita sebagai ibu yang mengandung dan mengalami sendiri,  karena dokter menghitung usia kandungan berdasarkan ukuran janin yang tertera di layar monitor USG, Sedangkan para ibu menghitung dari hari pertama haid terakhir ia menstruasi.

Testpack adalah salah satu alat untuk mendeteksi kehamilan sejak dini yang keakuratannya mencapai 99 persen. Inilah awal diketahui kehamilan saya pertama kalinya.


Kehamilan berakhir dimeja operasi untuk melakukan tindakan kuretase melahirkan janin yang masih berupa gumpalan darah. 

Tidak ada yang  menginginkan janin yang dikandung akan berakhir dengan tindakan kuretase,  tapi pilihan itu tidak bisa dihindari ketika kondisi yang memaksa. Saya pun begitu, tidak pernah berpikir akan masuk ruang tindakan operasi untuk melakukan kuretase.

Ketika pendarahan merenggut kehidupan bayi saya yang mengawali masuknya Rumah Sakit untuk dirawat selama 5 hari, meninggalkan kepedihan di hati dan keluarga kami. Kematian bayi dalam kandungan akibat keguguran panjang memaksa saya harus melahirkan bayi dengan cara tidak normal atau dengan bahasa sakitnya disebut dengan istilah di kuret. Memang meski dikeluarkan bukan cara dikuret melainkan dengan cara disedot namun istilah ini tetap digunakan sebagai pengeluaran janin yang masih berusia 2 bulan.




Dengan berat hati kami harus menerima saran dari dokter yang menangani kami, meskipun sebelumnya dokter memberikan dua pilihan untuk mengeluarkan bayi yang sudah meninggal tersebut yaitu minum obat peluntur atau di sedot. Namun terakhir pilihan itu kemudian tidak lagi berlaku setelah melihat kondisi janin didalam kandungan saya. Meski dengan sangat berat hati kami harus menyepakati saran dari dokter Karena menurut dokter kuretaselah jalan terbaik untuk mengeluarkan sisa sisa jaringan janin yang masih bertahan dalam rahim saya.


Beberapa berkas surat pernyataan yang  diberikan pada kami untuk meminta harus kami isi dan tandatangani untuk menyepakati tindakan kuretase. Walau saya pribadi dengan sangat berat hati dan sempat bergumul saat mau menandatangani berkas berkas tersebut, tetapi mengingat hasil saran dan penjelasan dari dokter, bahwa kuretaselah jalan terbaik untuk membersihkan sisa sisa janin dalam rahim saya, lagi pula karena janin dalam kandungan sudah meninggal jadi kalau dipikir pikir memang itulah jalan terbaik demi kesehatan saya. Cukup beralasan memang, karena jikalau dikeluarkan menggunakan obat, dengan kondisi pendarahan seperti itu dikhawatirkan bakteri akan menyebar kemana mana dan menimbulkan infeksi.


Dengan menimbang dari segala kondisi saya pada saat itu dan mempertimbangkan saran dari dokter, siang itu kami sepakat untuk menandatangani berkas berkas tersebut. Untuk menghilangkan keragu raguan, kami memutuskan berdoa dulu untuk penyerahan diri kepada Tuhan supaya upaya kuretase berjalan lancar.

Sebelumnya dokter sempat bicara pada saya,  beliau meyakinkan saya karena dia melihat saya penuh dengan kecemasan. Maklum pengalaman pertama yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan seperti itu jadinya. Pukul 13. 45 saya dibawa masuk ruang tindakan untuk persiapan karena jadwal operasi ditentukan pukul 14.00. Saya sempat bertanya tanya sama perawat yang membantu persiapan saya tentang pasien yang menjalani operasi tersebut dan menanyakan beberapa fungsi alat yang berada di area operasi. Jawaban dari perawat itu bisa menepis rasa takut saya menghadapi tindakan operasi tersebut. Bahkan saya juga sempat berkata sama suami saya yang terus mendapingi saya menjelang operasi tersebut, saya bilang padanya: hidup ini tidak ada yang tahu ya apa yang akan terjadi? Suami hanya bilang : sudah tidak usah dipikirkan.

Sesaat sebelum di kuretase



Disitu saya berpikir hidup ini begitu cepat, semua bisa begitu cepat terjadi dan berlalu. Waktu terus mengejar kita begitu dengan cepatnya. Tidak ada yang menduga hari itu saya akan ada di meja operasi untuk menyedot sisa jaringan janin saya yang hancur berkeping keping akibat pendarahan. Hari itu saya dipaksa untuk melahirkan bayi yang tidak normal dengan penuh kesakitan.


Waktu memang begitu cepat berlalu,  begitu saya disuntik obat bius, hanya dalam hitungan detik saya langsung tidak sadarkan diri. Dalam kondisi tidak sadar itulah proses operasi pengeluaran seluruh sisa jaringan janin dilakukan dengan cepat. Segumpal darah dikeluarkan dari rahim saya. Saya terpisah dari darah daging saya bukan untuk sebuah proses fase kehidupan,  tetapi kematian dan gugurnya calon bayi.


Saat tersadar dari obat bius disitu saya menyadari bahwa saya tidak lagi sedang hamil. Bayiku telah keluar dalam bentuk gumpalan darah. Saya sudah melahirkan secara tidak normal.


Lebih dari satu minggu saya digiring kedalam perapian yang seperti nyalanya membakar hidup saya, panas, sakit, terbakar. Sebuah proses hidup yang sungguh menyakitkan yang belum pernah saya alami sebelumnya dan semoga tidak akan pernah terjadi lagi. Rencana Tuhan memang sulit dipahami, sampai hari ini saya tidak mengerti jalan Tuhan bagi saya dan keluarga kami seperti apa sehingga harus menjalani perapian ini.


Baca juga Janinku Gugur setelah Usia 2 bulan dalam Kandungan


Semoga setelah lulus dari ujian ini Tuhan memberikan anak yang sehat, kuat, kehamilan tanpa masalah.





Kuretase Tindakan Melahirkan Bayi yang tidak Normal. Kuretase  Tindakan Melahirkan Bayi yang tidak Normal. Reviewed by Risda Nababan on February 05, 2018 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.