Ganti Putus Asa-mu Dengan Pengharapan Saat Ditengah Badai

Credit : leituradecristo

Saat semuanya terasa sulit dan pintu terasa tertutup dan segala usaha yang telah kulakukan seolah sia-sia, dan perjalanan yang kulalui sangat terasa panjang.

Aku mulai mengingat orang-orang yang sama yang tidak bisa mencapai tujuan hidup mereka saat ini.
Mereka memilih jalan lain sebagai jalan terakhir karena mereka menganggap kemungkinan itu tidak ada lagi.

Disaat aku memikirkan nasib mereka, aku mulai membandingkan keadaan aku dengan mereka, namun aku tidak tahu sesungguhnya apa yang menjadi keputusan mereka.

Satu hal yang selalu kutanamkan didalam hatiku, bahwa aku memiliki Tuhan, yaitu Yesus. Aku memiliki Firman yang hidup, yang mampu menghidupkan orang dari kematian, entah mereka mengalami kematian Roh, kematian Pengharapan dan apapun jenisnya. Melepaskan dari ragam kesusahan, melepaskan mereka dari masalah.

Banyak Ayat- ayat Firman yang selalu menguatkan aku. Aku Memikirkan apa yang bisa membuat hati Tuhan tertuju kepadaku supaya Ia mau mengingat aku kembali. Aku mengingat saat Ia menolong aku, yang aku percayai merupakan mukjizat bagi aku, pengalaman itu membuat aku teguh berpijak bahwa kemungkinan itu selalu ada walaupun tidak tahu kapan waktunya.

Bukan situasi yang baik buat aku ketika aku di vonis oleh dokter.
Walaupun sebelumnya aku sudah tahu, tapi aku mengira tidak akan seperti itu kondisi yang akan terjadi.
Aku harus akui bahwa kondisi aku pada saat itu aku sangat down boleh dibilang ada keputusasaan.
Akan tetapi aku mulai teringat kembali masa  - masa sukar dalam hidup yang pernah aku alami.

Pikiran aku seperti ini " Jika aku menerima/mendapat sesuatu dengan mudah artinya itu bukan suatu MUJIZAT" sedangkan yang saya tahu bahwa hidup aku di dalam Kristus adalah mujizat. ketika aku berpikiran seperti itu, saat dokter vonis aku aku langsung katakan pada diri aku "pasti Tuhan akan lakukan Mujizat itu"

Setelah divonis dan saran dari dokter bahwa akan dilakukan beberapa pemeriksaan dan pengobatan lanjutan aku mempersiapkan diri aku untuk proses tersebut.
Disatu sisi aku harus ikuti proses itu untuk memperbaiki kondisi tubuh aku dan disisi lain aku mengharapkan tanpa bedah. Karena mengharapkan yang terbaik atas situasi yang sedang aku alami maka aku menjalani keduanya.
Aku mulai berpuasa selama 3 hari berturut-turut, meminta tuntunan Tuhan tentang hal apa yang terbaik dari Tuhan bagi aku tanpa mengabaikan salah satu diantara pilihan tersebut.


Dengan menjalani saran dokter aku tetap harus kedokter melakukan pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. Seperti biasa untuk berobat ke dokter spesialis, aku harus mendaftarkan diri terlebih dahulu sehari sebelum kunjungan karena dokternya memang ramai, akhirnya aku mulai menghubungi bagian pendaftaran lewat telephon dengan harapan aku mendapat nomor antrian yang tidak terlalu jauh karena takut kelamaan antriannya.


Saat aku mulai melakukan pendaftaran  tidak seperti lazimnya langsung masuk kebagian terkait, entah kenapa. Aku sempat di over ke line yang lain dan aku anggap itu hal biasa. Diujung telephon sesorang menerima telepon dari aku, setelah meminta nomor identitas aku seseorang itu mulai menginput pendaftaranku, tetapi dia tidak memberikan nomor antrian.


Aku pikir tidak apa-apa nanti setelah dirumah sakit aku ambil nomor antriannya.
Apa yang terjadi setibanya di RS aku masuk keruang pendaftaran dan ingin mengambil nomor antrian tersebut. Beberapa kali petugas mengecek data aku dikomputer katanya namaku tidak terdaftar, miris sekali, artinya aku daftar sama siapa? Memang sepanjang jalan di area RS ada pemberitahuan bahwa ada sedikit gangguan, tetapi yang tidak habis pikir kenapa aku yang terjebak dalam masalah ini. Bagaimana dengan janji aku dengan dokter yang hari itu harus pengobatan lanjutan padahal aku telah membeli resep yang disarankan dokter? Aku tidak mau menyerah. Aku meminta solusi dari petugas pendaftaran RS tersebut supaya aku bisa dikasih masuk dalam daftar pasian dokter tersebut. Petugas bilang jatahnya udah penuh 30 pasien hari ini. Akhirnya petugas menyarankan aku untuk meminta kepada dokternya apa masih bisa menerima penambahan pasien lagi.


Aku naik kelantai 2 untuk ingin bertemu dengan dokternya, disana ada suster pembantu dari dokter tersebut. Akhirnya saya mengutarakan keluhanku ke suster penjaga, supaya aku diizinkan masuk dalam daftar pasien dokter. Lagi-lagi suster pun tidak bisa bantu, kecuali kalau keadaan Emergency.



Update 

Tidak masalah sekalipun pihak rumah sakit atau siapun yang tidak mengizinkan aku berobat lanjutan karena kesalahan prosedur. Memang pada saat kejadian aku pasti kecewa dan rasanya sesak ketika ditolak. Tapi setelah nya setelah saya berjalan baru saya bisa menyadari, bahwa didalam penolakan sekalipun, yakinilah bahwa Tuhanpun ada disana didalam situasi itu.

Bagian kitalah adalah melakukan dan percaya. Bahwa disaat melakukan pun kita tetap terbentur dengan masalah dan penolakan, jangan marah dan mengumpat, kita tidak tahu bahwa ternyata itulah jalan Tuhan untuk kita. Intinya kita melakukannya dengan taat dan setia, soal hasil biar menjadi urusan Tuhan.


Saat aku ditolak, apakah aku tetap sakit?
Tidak...
Apakah vonis dokter yang mengharuskan aku melakukan ini dan itu terlaksana?
Tidak.
Vonis itu berlangsung beberapa tahun lamanya, saya harus akui itu. Aku tidak melakukan tindakan medis setelah kejadian itu. Puji Tuhan dengan kuasa Tuhan penyakit itu hilang dari tubuhku tanpa operasi dan tanpa pengobatan.


Aku meyakini bahwa pasti sembuh dan apa yang kuyakini bahwa ini merupakan skenario Tuhan, sehingga benar-benar akan terjadi sesuatu yang luar biasa sehingga tulisan ini dapat bersambung menjadi sebuah karya tulis yang lengkap untuk bisa membangun dan menguatkan iman mereka yang sedang dalam penantian pengharapannya .

Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Roma 5:5 (TB)
Jangan takut berharap, karena saat kamu berharap pada Tuhan, percayalah bahwa kamu tidak akan kecewa. Mungkin sebelum kamu membaca artikel ini, kamu sedang mengharapkan kesembuhan pada dokter, mengharapkan bantuan kepada orang lain, berharap mereka bisa menolongmu tetapi sebaliknya kamu malah dikecewakan.


Sebelum kita dilahirkan, Tuhan sudah berjanji dalam diriNya bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita yang berharap kepada-Nya.



Ganti Putus Asa-mu Dengan Pengharapan Saat Ditengah Badai Ganti Putus Asa-mu Dengan Pengharapan Saat Ditengah Badai Reviewed by Risda Nababan on August 19, 2014 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.